Minyak Kayu Putih Dicampur Bensin, Irit atau Berisiko untuk Mesin?
2026-07-18 06:12 WIB · aindari

Sejumlah riset menunjukkan potensi minyak kayu putih sebagai bioaditif bensin, tetapi pemakaiannya sehari-hari belum terbukti aman dan efektif dalam jangka panjang.
Perbincangan soal mencampur minyak kayu putih ke dalam bensin kembali ramai di media sosial. Klaim yang beredar menyebut campuran tersebut dapat membuat kendaraan lebih hemat bahan bakar. Isu ini ikut dikaitkan dengan sejumlah penelitian kampus yang menguji minyak kayu putih sebagai bioaditif pada bensin.
Secara kimia, minyak kayu putih termasuk minyak atsiri dengan komponen utama 1,8-cineole atau eucalyptol. Senyawa ini mengandung oksigen, sehingga dalam beberapa riset dinilai berpeluang membantu pembakaran campuran udara dan bahan bakar berlangsung lebih sempurna. Dari sisi teori, hal itu membuka kemungkinan adanya peningkatan efisiensi pada kondisi tertentu.
Beberapa penelitian yang sering dirujuk berasal dari Jurnal Transmisi Universitas Merdeka Malang, Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya, serta publikasi Utomo dan Arsana pada 2020. Pada pengujian Honda CS1 150 PGM-FI, campuran sekitar 8 persen minyak kayu putih dilaporkan menekan konsumsi bahan bakar hingga 35,78 persen, menaikkan torsi sekitar 2,22 persen, meningkatkan daya 2,53 persen, serta menurunkan emisi karbon monoksida dan hidrokarbon.
Riset lain pada Honda Supra X 125R mencatat penambahan sekitar 4 mililiter minyak kayu putih per liter bensin menunjukkan kecenderungan performa membaik dan konsumsi bahan bakar menurun. Sementara itu, penelitian Winoko dan Nugroho pada 2021 di Jurnal Transmisi menemukan peningkatan daya pada motor 150 cc dengan campuran sekitar 6 persen. Namun, kadar lebih tinggi seperti 9 persen tidak menghasilkan performa lebih baik, sehingga komposisi campuran dinilai memiliki titik optimum.
Meski ada temuan positif, hasil tersebut belum cukup untuk dijadikan dasar penggunaan rutin. Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, Prof. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengingatkan bahwa minyak kayu putih berpotensi menurunkan lubricity atau kemampuan pelumasan bahan bakar jika digunakan terus-menerus. Ia juga menyebut belum ada riset jangka panjang yang membuktikan campuran ini aman bagi sistem bahan bakar dan komponen mesin setelah dipakai lama.
Tri menilai penghematan yang dirasakan pengguna bisa saja kecil dan dipengaruhi persepsi. Di sisi lain, penambahan zat di luar formulasi resmi, termasuk minyak kayu putih, tidak direkomendasikan karena dapat mengubah spesifikasi BBM yang telah ditetapkan. Bahan bakar yang dicampur aditif nonresmi berpotensi memiliki kualitas dan karakteristik berbeda dari rancangan produsen.
Peneliti Balai Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS, Muhamad Fuad, menyebut minyak kayu putih memang menarik sebagai kandidat bioaditif karena nilai kalor dan kandungan oksigennya. Namun, pemanfaatan komersial masih membutuhkan kajian lebih lanjut mengenai stabilitas, kecocokan dengan sistem bahan bakar, serta dampaknya terhadap umur mesin. Artinya, klaim bensin bercampur minyak kayu putih pasti lebih irit untuk pemakaian harian belum dapat disimpulkan.
Tag: bensin, BBM, minyak kayu putih, bioaditif, mesin kendaraan