Lumut Gurun Xinjiang Bangkit Kembali Setelah Diuji di Orbit
2026-10-11 17:06 WIB · aindari · 👁 830 dibaca

Syntrichia caninervis menunjukkan ketahanan terhadap kekeringan ekstrem, radiasi, suhu beku, dan lingkungan luar angkasa yang menyerupai Mars.
Peneliti Ekspedisi Ilmiah Xinjiang Ketiga mengidentifikasi lumut Syntrichia caninervis sebagai salah satu tumbuhan paling tahan terhadap kondisi ekstrem. Spesies itu ditemukan di Gurun Gurbantunggut, Xinjiang, wilayah barat laut Tiongkok. Hasil penelitian tersebut dipaparkan di Urumqi pada Sabtu (10/10) dan menjadi salah satu capaian utama ekspedisi ilmiah tersebut.
Uji laboratorium menunjukkan lumut itu tetap hidup setelah kehilangan lebih dari 98 persen air dalam selnya. Tumbuhan tersebut juga mampu bertahan dari pembekuan cepat pada suhu minus 196 derajat Celsius serta paparan radiasi gamma yang kuat. Kemampuan ini membuatnya berbeda dari sebagian besar tumbuhan yang tidak mampu bertahan dalam kombinasi tekanan lingkungan serupa.
Ketahanan Syntrichia caninervis kemudian diuji di luar angkasa. Pada Maret tahun ini, lumut dalam keadaan kering dibawa menggunakan wahana kargo eksperimental Tiongkok, Qingzhou. Eksperimen berlangsung di orbit dengan paparan mikrogravitasi dan radiasi kosmik. Sistem penyiraman terkontrol hanya memberikan air dalam jumlah kecil untuk menguji kemampuan pemulihannya.
Setelah memperoleh air, lumut yang semula berwarna abu-abu kehitaman berubah menjadi kuning kehijauan dan kembali hidup. Li Xiaoshuang, peneliti Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, menyatakan bahwa eksperimen tersebut merupakan kasus pertama ketika tumbuhan utuh dibawa ke orbit rendah Bumi lalu berhasil diaktifkan kembali. Pemantauan berikutnya memperlihatkan lumut itu terus beregenerasi dan tumbuh dengan baik.
Para peneliti juga menyusun data genetik spesies tersebut hingga tingkat kromosom. Analisis itu menemukan banyak gen yang berhubungan dengan respons terhadap tekanan lingkungan, sehingga membantu menjelaskan dasar molekuler ketahanannya. Dalam studi yang diterbitkan pada 2024 di jurnal The Innovation, Li dan timnya menilai lumut tersebut berpotensi menjadi tumbuhan perintis bagi upaya kolonisasi lingkungan luar angkasa.
Menurut Li, materi genetik Syntrichia caninervis berpotensi dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanaman pangan dan membantu pemulihan lahan yang mengalami desertifikasi. Ekspedisi Ilmiah Xinjiang Ketiga dimulai pada 2021 oleh Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tiongkok. Selama lima tahun terakhir, timnya meneliti ekologi, lahan dan pertanian, keanekaragaman hayati, sumber daya biologis, serta sumber daya mineral, energi, dan air. Ekspedisi serupa sebelumnya berlangsung pada dekade 1950-an dan 1980-an.
Tag: Syntrichia caninervis, lumut gurun, biologi luar angkasa, Xinjiang, ketahanan tanaman