BRIN Minta Skema Dana Berkelanjutan untuk Perkuat Konservasi Kebun Raya
2026-11-04 17:09 WIB · aindari · 👁 623 dibaca
Pengelolaan kebun raya membutuhkan pembiayaan jangka panjang, keahlian pengelolaan koleksi, dan dukungan lintas pihak tanpa menggeser fungsi konservasinya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai kebun raya di Indonesia memerlukan sistem pendanaan berkelanjutan agar koleksi tumbuhan dan keanekaragaman hayati di dalamnya tetap terjaga. Pembangunan kawasan, menurut lembaga itu, tidak boleh berhenti pada penyediaan sarana fisik. Operasional kebun raya juga harus dirancang sejak awal secara menyeluruh, termasuk pembiayaan, perawatan, serta pembagian tanggung jawab pengelola.
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN R. Hendrian mengatakan pengelolaan kebun raya membutuhkan biaya besar. Kawasan yang luas harus dirawat secara intensif karena tumbuhan merupakan makhluk hidup yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Karena itu, ia tidak mendorong kebun raya diarahkan menjadi kawasan komersial, tetapi meminta pengelola mempertimbangkan sumber pembiayaan yang mampu menopang kegiatan konservasi.
Menurut Hendrian, kemitraan dan sejumlah model pendanaan lain dapat dikaji untuk membantu pengelola menggunakan sumber daya secara lebih optimal. Pengembangan skema tersebut perlu berjalan bersama pelaksanaan fungsi konservasi. Identitas kebun raya sebagai kawasan pelestarian tidak boleh hilang akibat upaya mencari dukungan finansial. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi beban operasional tanpa mendorong komersialisasi berlebihan.
Kebutuhan memperkuat kebun raya semakin penting di tengah ancaman lingkungan, termasuk banjir dan kebakaran hutan. Kawasan konservasi itu memiliki peran dalam menjaga keragaman hayati sekaligus membantu menghadapi dampak kerusakan lingkungan. Namun, ukuran keberhasilan pengelolaan bukan hanya banyaknya tanaman yang dikumpulkan. Pengelola juga perlu mampu merawat koleksi dan memastikan setiap tumbuhan memiliki identitas yang tercatat secara tepat.
BRIN menilai kemampuan tersebut membutuhkan penguatan pengetahuan hortikultura, taksonomi, dan parataksonomi. Hendrian menyebut kualitas sebuah kebun raya dapat dilihat dari proporsi koleksinya yang telah teridentifikasi di institusi tersebut. Pendataan spesies menjadi bagian penting karena menentukan sejauh mana koleksi dapat dikelola, dipelajari, dan dipertahankan dalam jangka panjang.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Noer Adi Wardojo mengatakan pengelolaan kebun raya dan taman keanekaragaman hayati pada masa mendatang akan menghadapi tantangan lebih berat. Selain kebutuhan biaya, pengelola memerlukan pendampingan serta sokongan dari berbagai pihak. Menurut dia, dukungan berkelanjutan dibutuhkan agar pengembangan dan penguatan kawasan dapat berjalan optimal.
Tag: kebun raya, konservasi, keanekaragaman hayati, pendanaan berkelanjutan, BRIN