Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Indef Nilai Investasi RI Masih Menarik, Eksekusi Proyek Jadi Ujian Semester II

2026-07-18 17:09 WIB · aindari · 👁 457 dibaca

Realisasi investasi semester I 2026 dinilai menunjukkan daya tarik Indonesia tetap terjaga, tetapi kualitas dan percepatan proyek menjadi pekerjaan utama.

Realisasi investasi Indonesia pada paruh pertama 2026 dinilai masih mencerminkan minat investor yang kuat, meski ekonomi global bergerak dalam ketidakpastian. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa posisi Indonesia sebagai tujuan investasi belum melemah.

Mengacu pada laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, nilai investasi yang masuk sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka itu setara dengan sekitar 49,5 persen dari target investasi tahun berjalan. Menurut Rizal, fokus pada paruh kedua tahun ini tidak cukup berhenti pada kemampuan menarik minat investor, tetapi harus bergeser pada realisasi proyek yang memberi dampak ekonomi nyata.

Rizal menekankan perlunya percepatan pelaksanaan proyek di lapangan. Pemerintah, menurut dia, perlu memperbaiki proses perizinan, memberi kepastian regulasi, mempercepat penyediaan infrastruktur, serta menuntaskan hambatan teknis yang mengganggu eksekusi investasi. Dengan begitu, nilai investasi yang besar dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kapasitas produksi nasional.

Daya tahan iklim investasi Indonesia dinilai masih didukung sejumlah faktor, seperti skala pasar domestik, agenda hilirisasi, dan stabilitas makroekonomi. Namun, investor pada semester II berpotensi lebih berhati-hati karena ketidakpastian global, ketegangan geopolitik, serta biaya pendanaan yang masih tinggi. Situasi tersebut dapat membuat aliran modal lebih memilih sektor dengan prospek imbal hasil lebih jelas dan nilai tambah lebih besar.

Beberapa bidang yang disebut berpeluang menarik minat investor antara lain hilirisasi mineral, manufaktur, ekonomi digital, pusat data, energi, dan logistik. Rizal menilai konsistensi kebijakan menjadi syarat penting agar Indonesia tetap mampu bersaing dengan negara tujuan investasi lain di kawasan.

Dari sisi ketenagakerjaan, realisasi investasi semester I 2026 menyerap 1,44 juta pekerja. Berdasarkan catatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, jumlah tersebut naik 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rizal memandang kenaikan ini sebagai perkembangan positif, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa investasi yang masuk sudah berkualitas.

Menurut Rizal, kualitas investasi juga perlu dilihat dari produktivitas, tingkat upah, alih teknologi, peningkatan keterampilan pekerja, dan nilai tambah yang dihasilkan. Karena itu, arah kebijakan investasi dinilai perlu bergerak dari sekadar mengejar besaran angka realisasi menuju investasi yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan agar daya saing industri nasional dan kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.

Tag: investasi, BKPM, Indef, ekonomi Indonesia, hilirisasi