Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Gaya Hidup

Panduan Mandi Wajib: Niat, Tahapan, dan Bagian Tubuh yang Harus Terkena Air

2026-10-16 06:04 WIB · aindari · 👁 724 dibaca

Mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar bertumpu pada niat dan memastikan air membasahi seluruh tubuh sesuai ketentuan fikih.

Mandi wajib atau mandi junub dilakukan untuk menghilangkan hadas besar dalam kondisi tertentu, antara lain setelah hubungan suami istri, keluarnya air mani, serta berakhirnya haid atau nifas. Dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut umat Islam di Indonesia, terdapat dua rukun utama, yaitu niat dan meratakan air ke seluruh bagian tubuh yang wajib dibasuh. Tahapan lain berstatus sunah dan berfungsi menyempurnakan proses bersuci.

Niat dilakukan bersamaan dengan saat air pertama kali disiramkan ke bagian tubuh yang dibasuh. Niat pada dasarnya berada di dalam hati sehingga tidak wajib diucapkan keras. Salah satu lafal yang umum digunakan adalah “Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta'aalaa”, yang berarti seseorang berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala. Niat juga dapat disesuaikan dengan tujuan mandi, misalnya setelah junub, haid, atau nifas.

Sebelum mengguyur tubuh, kedua tangan dianjurkan untuk dicuci, biasanya tiga kali. Bagian tubuh yang terkena kotoran atau najis juga perlu dibersihkan, termasuk area kemaluan jika diperlukan. Setelah itu, seseorang dianjurkan berwudu seperti hendak melaksanakan salat. Tata cara ini disebut dalam hadis riwayat Bukhari dari Aisyah RA mengenai mandi junub Rasulullah SAW, meski wudu tersebut bukan bagian dari rukun mandi wajib menurut mazhab Syafi’i.

Tahap berikutnya adalah membasahi kepala hingga air mencapai rambut dan kulit kepala. Dalam tata cara sunah, kepala dapat diguyur tiga kali. Rambut yang tebal atau panjang sebaiknya disela dengan jari agar air mencapai pangkal rambut. Penggunaan sampo tidak menjadi syarat sah, selama air telah mengenai bagian yang diwajibkan.

Setelah kepala, seluruh tubuh diguyur secara merata. Mendahulukan sisi kanan kemudian kiri termasuk anjuran, bukan kewajiban. Perhatian perlu diberikan pada area yang mudah terlewat, seperti belakang telinga, ketiak, pusar, lipatan kulit, sela-sela jari, serta bagian tubuh yang tertutup rambut. Menggosok tubuh perlahan dapat membantu pemerataan air, tetapi sabun juga tidak diwajibkan.

Sebelum mengakhiri mandi, periksa kembali seluruh bagian luar tubuh. Benda atau lapisan yang kedap air dan menempel pada kulit harus disingkirkan agar tidak menghalangi air. Darah haid atau nifas perlu dipastikan telah berhenti sebelum mandi wajib dilakukan. Mandi tidak harus berlangsung lama, tetapi tidak boleh terlalu tergesa-gesa hingga ada bagian tubuh yang luput. Setelah niat dilakukan dan seluruh rukun terpenuhi, tubuh dapat dikeringkan dengan handuk bersih.

Tag: mandi wajib, mandi junub, fikih Islam, bersuci, gaya hidup Muslim