Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Teknologi

Tata Kelola Menjadi Kunci Penggunaan AI yang Aman di Perusahaan

2026-10-20 06:03 WIB · aindari · 👁 839 dibaca

BDO Indonesia menilai perusahaan perlu memperkuat pengawasan, kebijakan, dan kompetensi internal agar pemanfaatan AI tidak mengancam data serta kepercayaan pelanggan.

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia usaha membutuhkan tata kelola yang sebanding dengan tingkat risikonya. BDO di Indonesia mengingatkan bahwa lemahnya perlindungan data dapat memicu kebocoran informasi, menurunkan kepercayaan pelanggan, merusak reputasi, dan mengganggu keberlangsungan bisnis.

CEO BDO di Indonesia Thano Tanubrata mengatakan perkembangan AI yang berlangsung cepat harus diikuti kesiapan kebijakan, sistem pengendalian, dan mekanisme pengawasan. Menurut dia, komite audit memiliki peran penting untuk memastikan penerapan teknologi tersebut tetap memperhatikan tata kelola serta kepentingan perusahaan dan pelanggan. Kebocoran data, selain berpotensi menimbulkan kerugian finansial, dapat berdampak panjang terhadap reputasi organisasi.

Kebutuhan penguatan pengawasan meningkat seiring pemakaian AI untuk efisiensi operasional dan pengambilan keputusan bisnis. Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia Reza Aminy menjelaskan bahwa perusahaan harus mempelajari kebijakan pengelolaan data milik penyedia layanan AI sebelum memasukkan informasi internal atau data pelanggan ke dalam sistem. Langkah itu diperlukan agar organisasi memahami bagaimana data digunakan dan dikelola oleh layanan yang dipilih.

Risiko AI tidak hanya berkaitan dengan keamanan informasi. Teknologi deepfake, misalnya, dapat disalahgunakan untuk menyamar sebagai pimpinan perusahaan dalam rapat daring. Selain itu, chatbot bisa menghasilkan jawaban yang keliru atau mencantumkan referensi yang sebenarnya tidak ada. Kondisi tersebut membuat hasil keluaran AI tidak dapat diterima begitu saja tanpa pemeriksaan.

Reza menyampaikan bahwa tata kelola sebaiknya dirancang sebelum AI digunakan. Pengendalian perlu diperketat ketika risikonya meningkat, termasuk melalui pemeriksaan manusia supaya hasil dan keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan. Pengawasan terutama perlu menjadi perhatian saat AI berhubungan langsung dengan pelanggan, memproses data sensitif, atau turut memengaruhi keputusan penting perusahaan.

Penerapan AI juga perlu memiliki tujuan yang jelas, penanggung jawab yang ditetapkan, evaluasi berkala, dan dukungan peningkatan kemampuan auditor internal. Dalam kegiatan bersama Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI), BDO Indonesia mendorong komite audit memperkuat fungsi pengawasan terhadap penggunaan AI. Ketua Dewan Pengurus IKAI Maliki Heru Santosa menilai pertukaran pengalaman dan perluasan jejaring antaranggota dapat membantu memperbarui pemahaman tentang fungsi oversight di tengah perubahan teknologi. Pengawasan yang memadai diharapkan memungkinkan perusahaan memperoleh manfaat efisiensi dari AI tanpa mengesampingkan perlindungan data dan kepercayaan pelanggan.

Tag: kecerdasan buatan, keamanan data, tata kelola, komite audit, deepfake