Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Teknologi

Kemkomdigi Soroti Empat Pilar untuk Memperkuat Kedaulatan AI Indonesia

2026-10-21 17:15 WIB · aindari · 👁 936 dibaca

Kedaulatan kecerdasan artifisial nasional dinilai membutuhkan penguatan talenta, tata kelola data, infrastruktur komputasi, serta kolaborasi inovasi.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menilai pembangunan kedaulatan kecerdasan artifisial (AI) Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital Kemkomdigi Mira Tayyiba menyebut terdapat empat kemampuan yang perlu dibangun secara bersamaan agar ekosistem AI nasional memiliki fondasi yang kuat. Pandangan itu disampaikan dalam Peruri Digital Summit di Jakarta, Rabu.

Menurut Mira, aturan tetap diperlukan untuk menjadi pengaman dalam pengembangan dan pemanfaatan AI. Namun, regulasi tidak akan memadai tanpa dukungan kapasitas manusia, data, infrastruktur, dan kerja sama yang terarah. Keempat unsur tersebut saling berkaitan dan menjadi dasar bagi upaya Indonesia membangun kemampuan AI yang mandiri, tanpa mengisolasi diri dari perkembangan teknologi global.

Pilar pertama adalah peningkatan jumlah serta kualitas talenta dan riset. Data BRIN pada 2024 menunjukkan belanja riset nasional baru berada di angka 0,23 persen dari produk domestik bruto, sementara jumlah sumber daya manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai 398.000 orang. Kemkomdigi memandang Indonesia membutuhkan lebih banyak peneliti, insinyur, pakar keamanan siber, dan aparatur publik yang memahami AI. Kemitraan teknologi juga diharapkan mencakup riset bersama, alih pengetahuan, dan pembentukan tenaga ahli lokal.

Unsur kedua berkaitan dengan mutu data dan pengelolaannya. AI berisiko menghasilkan kinerja yang buruk apabila menggunakan data yang tidak akurat atau tersebar dalam sistem yang tidak terhubung. Karena itu, pendekatan nasional perlu bergeser dari sekadar menghimpun data menuju pemanfaatan lintas instansi melalui interoperabilitas yang aman, memiliki standar, dan dapat diaudit. Pemakaian bersama tidak selalu menuntut pemindahan data secara fisik dari satu lokasi ke lokasi lain.

Pilar ketiga ialah kapasitas komputasi dan pusat data. Kapasitas pusat data Indonesia saat ini berada pada kisaran 465-600 megawatt, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga. Peningkatan investasi infrastruktur diperlukan, tetapi kedaulatan juga mencakup kemampuan mengendalikan akses, keamanan, serta kesinambungan layanan. Pembangunan dan pengoperasian pusat data perlu memperhatikan efisiensi energi dan prinsip keberlanjutan di tengah tekanan terhadap iklim dan sumber daya alam.

Pilar terakhir adalah ekosistem inovasi yang melibatkan pemerintah, lembaga penelitian, industri dalam negeri, dan mitra internasional. Kolaborasi tersebut memerlukan tata kelola yang jelas agar anggaran dan kewenangan tidak tumpang tindih serta menghasilkan integrasi layanan yang terasa bagi masyarakat. Menurut Kemkomdigi, tantangan utamanya ialah menjaga kendali nasional sambil tetap membangun kemampuan sendiri dan memanfaatkan kemajuan teknologi dunia.

Tag: kecerdasan artifisial, Kemkomdigi, kedaulatan AI, pusat data, talenta digital