Enam Tanda Pertemanan Mulai Menguras Mental
2026-11-06 17:04 WIB · aindari · 👁 1,1rb dibaca
Pertemanan sehat memberi dukungan, sedangkan hubungan dengan teman yang toxic dapat memicu rasa cemas, merendahkan diri, dan kelelahan emosional.
Teman berperan penting dalam kehidupan sosial. Mereka dapat menjadi tempat berbagi kegembiraan sekaligus sumber dukungan ketika seseorang menghadapi masa sulit. Namun, tidak semua hubungan pertemanan membawa pengaruh baik. Sebagian justru menguras tenaga dan pikiran karena perilaku yang berulang dan mengganggu kesejahteraan mental.
Tanda pertama terlihat dari hilangnya rasa percaya. Teman yang membocorkan rahasia atau membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak lagi memberi rasa aman. Kondisi ini dapat membuat seseorang enggan terbuka dan terus merasa khawatir. WebMD menyarankan agar hubungan dengan teman yang tidak dapat dipercaya dipertimbangkan untuk diakhiri.
Perilaku kasar juga perlu diwaspadai. Kekasaran tidak selalu berbentuk tindakan fisik seperti memukul. Ucapan yang merendahkan, kata-kata kasar, atau candaan yang terus melukai dapat menjadi bentuk perilaku yang berdampak pada harga diri dan kesehatan mental. Kedekatan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan batas antara humor dan perlakuan yang menyakitkan.
Ciri lain muncul ketika teman gemar menjadikan orang lain sebagai pembanding. Penampilan, gaya hidup, pencapaian, dan hal-hal yang dimiliki dapat terus dikomentari untuk mencari kekurangan. Perbandingan semacam itu bisa menyiratkan bahwa seseorang lebih rendah dari orang lain. Padahal, tiap individu memiliki keunikan dan kondisi berbeda sehingga tidak bisa diukur dengan ukuran yang sama.
Perubahan sikap yang sulit ditebak juga dapat membuat hubungan terasa melelahkan. Psychology Today menggambarkan teman toxic sebagai sosok yang emosinya dapat membuat orang lain mengalami naik-turun perasaan. Ia bisa bersikap sangat baik, lalu mendadak menyebalkan tanpa alasan yang jelas. Ketidakpastian ini mendorong seseorang terus menebak apakah temannya marah atau tidak menyukainya, hingga akhirnya menimbulkan keraguan.
Hubungan yang hanya berpusat pada satu pihak menjadi tanda berikutnya. Teman yang hadir ketika membutuhkan bantuan, tetapi menghilang saat orang lain menghadapi kesulitan, tidak menunjukkan dukungan timbal balik. Mereka juga terus membicarakan diri sendiri tanpa memberi perhatian kepada lawan bicara. Selain itu, sikap kompetitif berlebihan patut dicermati. Teman yang sehat ikut senang atas keberhasilan orang lain, sedangkan teman toxic dapat merasa cemburu, menganggap pencapaian sebagai persaingan, lalu menonjolkan keberhasilannya sendiri. Pola seperti ini perlu dikenali agar seseorang dapat menjaga batas dan memilih relasi yang lebih mendukung.
Tag: pertemanan, teman toxic, kesehatan mental, hubungan sosial