Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Rudal Iran Tembus Pertahanan AS, 50.000 Tentara di Timur Tengah Dinilai Rentan

2026-07-21 16:01 WIB · aindari · 👁 800 dibaca

Tiga rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS di Yordania, memperlihatkan celah perlindungan bagi puluhan ribu personel militer Amerika di kawasan.

Keberhasilan tiga rudal Iran menembus sistem pertahanan udara Amerika Serikat di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, memunculkan pertanyaan serius soal kemampuan Washington melindungi sekitar 50.000 personel militernya yang tersebar di Timur Tengah. The Wall Street Journal melaporkan hal tersebut pada Senin, mengutip pejabat AS, dan menyebut insiden itu mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi militer Amerika di kawasan yang bergejolak.

Menurut laporan itu, rudal-rudal Iran menghantam barak prefabrikasi di pangkalan yang dihuni personel militer AS. Selain korban yang sudah teridentifikasi, jenazah lain juga ditemukan di lokasi, meski identitasnya belum dapat dipastikan. Komando Pusat AS (CENTCOM) sebelumnya mengonfirmasi pada 18 Juli bahwa dua prajurit AS tewas dan satu lainnya dinyatakan hilang akibat serangan tersebut. Serangan ke Muwaffaq Salti merupakan bagian dari tiga serangan rudal yang terjadi dalam rentang 24 jam.

Dampak yang lebih luas juga dilaporkan oleh CBS News yang mengutip Pentagon: hampir 100 personel militer AS mengalami luka-luka akibat serangkaian serangan Iran terhadap berbagai pangkalan Amerika di Timur Tengah. Angka ini menggambarkan skala eskalasi yang terjadi dalam konflik kedua negara belakangan ini.

Ketegangan ini bermula dari konflik yang meletus sejak 28 Februari. Kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri permusuhan. Namun, gencatan senjata itu tidak bertahan lama. Sejak 8 Juli, militer AS kembali melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran dengan alasan merespons tindakan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Iran membalas serangan AS itu dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah, sekaligus menuduh Washington telah melanggar nota kesepahaman yang telah disepakati bersama. Puncaknya, pada 9 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara kedua negara tidak lagi berlaku, menandai babak baru eskalasi terbuka antara Washington dan Teheran.

Di tengah situasi ini, Iran dinilai masih memiliki persediaan rudal balistik dan drone dalam jumlah besar, yang menjadi faktor utama kekhawatiran soal perlindungan pasukan AS. Upaya diplomatik tetap berjalan di sisi lain: Qatar dan Mesir dilaporkan mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari kepada kedua pihak, sementara Iran menyatakan menerima usulan para mediator dan menegaskan saluran diplomatik tetap terbuka.

Tag: Iran, Amerika Serikat, Timur Tengah, konflik militer, Yordania