Bukan Soal Melupakan: Cara Sehat Melewati Fase Putus Cinta
2026-08-04 17:04 WIB · aindari · 👁 434 dibaca

Psikologi menjelaskan bahwa move on adalah proses penerimaan dan pengelolaan emosi, bukan sekadar menekan perasaan agar cepat berlalu.
Putus cinta bisa berdampak lebih jauh dari sekadar rasa sedih. Bagi sebagian orang, berakhirnya sebuah hubungan turut memengaruhi kualitas tidur, nafsu makan, konsentrasi, bahkan semangat menjalani rutinitas harian. Meski terasa berat, kondisi ini tidak permanen — dan ada cara-cara konkret untuk melewatinya tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Para ahli psikologi menegaskan bahwa move on bukan berarti seseorang harus segera melupakan mantan dalam waktu singkat. Prosesnya lebih kompleks: menerima kenyataan, mengelola emosi secara bertahap, lalu perlahan melanjutkan hidup. Setiap orang punya kecepatan pemulihan yang berbeda, dan itu wajar.
Langkah pertama yang justru sering diabaikan adalah memberi izin pada diri sendiri untuk merasa sedih. Menangis atau merasa kehilangan adalah bagian dari proses berduka yang normal. Menekan emosi justru memperlambat pemulihan, karena otak membutuhkan ruang untuk memproses pengalaman tersebut secara sehat. Seiring dengan itu, mengurangi kontak dengan mantan — termasuk berhenti memantau media sosialnya — membantu otak beradaptasi dengan kehidupan yang baru tanpa terus membuka luka lama.
Dari sisi lingkungan, menyingkirkan atau menyimpan sementara benda-benda yang memicu kenangan, seperti foto atau hadiah, juga dapat mengurangi intensitas rasa sedih yang muncul tiba-tiba. Sementara itu, mengisi waktu dengan aktivitas positif — olahraga, hobi yang sempat terbengkalai, belajar keterampilan baru, atau sekadar memasak — terbukti efektif mengalihkan pikiran negatif sekaligus memperbaiki suasana hati secara alami.
Dukungan sosial tak kalah penting. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya, baik teman maupun keluarga, tidak hanya meringankan beban emosional tetapi juga membuka perspektif baru yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya. Di sisi lain, perawatan diri dasar seperti tidur cukup tujuh hingga sembilan jam per malam, makan bergizi, dan berolahraga rutin membantu menjaga kondisi mental tetap stabil di tengah gejolak emosi.
Satu jebakan yang kerap memperpanjang proses pemulihan adalah kebiasaan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Tidak semua hubungan berakhir karena kesalahan satu pihak. Mengevaluasi apa yang terjadi sebagai pelajaran — bukan sebagai hukuman — adalah pendekatan yang jauh lebih konstruktif. Menetapkan tujuan baru, seperti mengembangkan karier, mengikuti kursus, atau merencanakan perjalanan, juga membantu menggeser fokus dari masa lalu menuju masa depan.
Apabila kesedihan berlangsung lama hingga mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah yang tepat dan tidak perlu ditunda. Bantuan profesional dapat membantu mengidentifikasi hambatan dalam proses move on serta menawarkan strategi pengelolaan emosi yang lebih terarah. Pada akhirnya, setiap langkah kecil yang diambil hari ini adalah bagian dari perjalanan menuju kondisi emosional yang lebih sehat.
Tag: move on, putus cinta, kesehatan mental, gaya hidup, psikologi