Stok Rudal Pencegat AS Menipis Drastis di Tengah Konflik dengan Iran
2026-08-05 15:01 WIB · aindari · 👁 872 dibaca

Militer AS dilaporkan telah menghabiskan hampir 80 persen persediaan rudal THAAD dan separuh stok Patriot sejak perang dengan Iran berlangsung.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah menguras cadangan rudal pencegat utama Pentagon secara signifikan. Laporan CNN yang mengutip sumber internal serta hasil penilaian inventaris terbaru menyebutkan bahwa sekitar 80 persen stok rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan kurang lebih setengah dari persediaan rudal Patriot telah terpakai. Sejumlah komandan senior AS secara tertutup disebut menggambarkan kondisi cadangan amunisi Pentagon kini berada pada level yang sangat rendah.
Sebelum konflik dengan Iran pecah, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan AS memiliki sekitar 452 unit rudal THAAD dan 2.200 rudal Patriot varian terbaru. Selain dua sistem pencegat itu, persediaan rudal lain seperti Army Tactical Missile System (ATACMS), Precision Strike Missile (PrSM), dan rudal jelajah Tomahawk juga dilaporkan berkurang secara berarti. Laju pengisian kembali gudang senjata terbilang lambat — Pentagon saat ini hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru per bulan. Para analis memperkirakan pemulihan stok THAAD ke level sebelum perang membutuhkan waktu paling sedikit tiga tahun.
Menipisnya persediaan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan negara-negara Teluk yang bergantung pada sistem pertahanan udara buatan AS. Mereka memperingatkan bahwa berkurangnya stok rudal pencegat dapat melemahkan kemampuan mereka menghadapi serangan rudal maupun drone Iran, terutama jika terjadi serangan balasan menyusul aksi militer AS berikutnya. Kekhawatiran serupa, dikombinasikan dengan risiko infrastruktur energi kawasan Teluk menjadi sasaran balasan Iran, disebut turut memengaruhi kalkulasi Washington.
CNN melaporkan bahwa kondisi persediaan rudal yang menipis menjadi salah satu pertimbangan Presiden Donald Trump dalam membatalkan rencana serangan tambahan terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Keputusan itu diambil setelah sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk menyampaikan kekhawatiran atas potensi serangan balasan yang dapat menghantam fasilitas energi mereka.
Pihak Pentagon dan Gedung Putih menepis kesan bahwa AS berada dalam posisi lemah. Juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan militer AS tetap memiliki kapabilitas yang dibutuhkan untuk menjalankan setiap operasi sesuai arahan presiden. Senada dengan itu, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan kepada CNN bahwa AS masih memiliki persediaan amunisi dan rudal yang lebih dari memadai untuk mendukung tujuan Presiden Trump. Meski demikian, laporan ini menambah tekanan pada perdebatan yang lebih luas soal kesiapan industri pertahanan AS dalam mempertahankan laju produksi senjata presisi di tengah konflik yang berkepanjangan.
Tag: Amerika Serikat, Iran, rudal THAAD, Patriot, pertahanan udara