Iran Ngotot Tutup Selat Hormuz, AS Klaim Sudah Pegang Kendali
2026-08-13 02:01 WIB · aindari · 👁 685 dibaca

Di tengah klaim AS bahwa mereka menguasai Selat Hormuz, Iran tetap bersikeras menutup jalur vital minyak dunia itu dan menambahkan syarat baru terkait Gaza.
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Iran saling beradu klaim atas jalur pelayaran yang menjadi urat nadi pasokan minyak global tersebut. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa negaranya kini mengendalikan selat strategis itu, termasuk mengontrol aliran keuangan Iran, sehingga Teheran dinilai tidak memiliki posisi untuk melawan.
Meski demikian, Iran tidak bergeming. Teheran tetap mempertahankan sikapnya untuk menutup Selat Hormuz dan bahkan memperluas tuntutannya. Iran menyatakan bahwa AS harus mengakhiri perang di seluruh kawasan — termasuk konflik di Gaza — sebagai syarat dibukanya kembali selat tersebut. Ini menandai eskalasi posisi Iran yang kini mengaitkan isu Hormuz dengan dinamika geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah.
Selat Hormuz merupakan titik transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini, bahkan dalam waktu singkat, berpotensi mengguncang pasar energi global dan mendorong lonjakan harga minyak mentah. Sentimen ini sudah mulai tercermin di pasar, dengan pelaku industri keuangan mencermati perkembangan situasi secara ketat.
Di dalam negeri, dampak potensial dari krisis Hormuz turut menarik perhatian kalangan investor. Kenaikan harga minyak yang dipicu ketidakpastian geopolitik membawa risiko inflasi yang perlu diantisipasi, termasuk dalam strategi penempatan aset seperti reksa dana pasar uang yang kerap dijadikan instrumen defensif di tengah volatilitas.
Perseteruan ini mencerminkan betapa kompleksnya dinamika hubungan AS-Iran saat ini. Trump mengklaim dominasi atas Iran bukan hanya secara militer di kawasan selat, tetapi juga melalui tekanan ekonomi dengan mengendalikan akses keuangan Teheran. Namun klaim tersebut belum mampu mengubah sikap Iran yang justru menaikkan taruhan diplomatiknya.
Dengan Gaza ikut diseret sebagai syarat negosiasi, peluang penyelesaian cepat semakin sempit. Iran tampaknya memanfaatkan momentum ini untuk menekan AS agar mengambil peran lebih aktif dalam menghentikan konflik bersenjata di kawasan, sebuah tuntutan yang kemungkinan besar akan ditolak Washington dalam waktu dekat.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik panas geopolitik yang paling diawasi pasar global. Selama kedua pihak belum mencapai titik temu, risiko gangguan pasokan energi dunia tetap terbuka dan menjadi faktor ketidakpastian yang signifikan bagi perekonomian global.
Tag: Selat Hormuz, Iran, Amerika Serikat, harga minyak, geopolitik