Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

CEO Bernama: Kemitraan ASEAN-China Jadi Fondasi Stabilitas di Tengah Gejolak Geopolitik

2026-08-13 17:16 WIB · aindari · 👁 722 dibaca

Hubungan ASEAN-China dinilai semakin strategis, tidak hanya di bidang perdagangan konvensional, tetapi juga ekonomi digital, AI, dan transisi energi hijau.

Di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi tatanan global, kemitraan antara ASEAN dan China disebut sebagai salah satu pilar penting bagi stabilitas kawasan sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Penilaian itu disampaikan oleh CEO Kantor Berita Nasional Malaysia (Bernama), Nur-ul Afida Kamaludin, dalam wawancara eksklusif dengan kantor berita Xinhua.

Menurut Nur-ul Afida, kawasan Asia Tenggara tidak boleh terjebak dalam polarisasi blok-blok yang saling bersaing. Ia menekankan bahwa fondasi hubungan antarnegara di kawasan ini semestinya dibangun di atas prinsip saling menghormati, inklusivitas, dan dialog terbuka. Dalam satu dekade mendatang, ia berharap Asia-Pasifik tetap menjadi kawasan yang damai dan terbuka secara ekonomi, dengan ruang yang cukup bagi negara-negara kecil dan berkembang untuk bersuara.

Kerja sama ASEAN-China, termasuk hubungan bilateral Malaysia-China, disebut telah berkembang pesat di berbagai sektor — mulai dari perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur, hingga pertukaran antarmasyarakat. Ke depan, Nur-ul Afida melihat ekonomi digital dan kecerdasan buatan sebagai ladang kolaborasi yang menawarkan potensi sangat besar. Ia juga menyoroti ekonomi hijau sebagai bidang menjanjikan, mencakup energi terbarukan, kendaraan listrik, teknologi baterai, dan efisiensi energi — yang menurutnya dapat sekaligus menciptakan lapangan kerja dan mendukung target iklim masing-masing negara.

Berdasarkan pengalamannya langsung di China, Nur-ul Afida mengaku terkesan dengan skala dan kecepatan transformasi yang terjadi di negara itu. Perubahan tersebut, katanya, tidak hanya tampak pada proyek-proyek infrastruktur besar, tetapi juga meresap ke dalam kehidupan sehari-hari melalui sistem pembayaran digital, perdagangan elektronik, transportasi efisien, dan layanan daring yang terintegrasi. Yang ia soroti secara khusus adalah kemampuan China untuk bergerak cepat dari tahap uji coba menuju penerapan skala besar di berbagai sektor industri, kota, dan layanan publik.

Di sektor media, ia mencatat bahwa China telah menanamkan investasi besar dalam produksi konten berbasis perangkat seluler, platform digital, jurnalisme berbasis data, dan pengembangan AI. Pengalaman dan model investasi jangka panjang China dalam infrastruktur, riset, pengembangan keterampilan, serta penerapan teknologi dinilai dapat menjadi pelajaran berharga bagi Malaysia dan negara-negara ASEAN lainnya. Nur-ul Afida juga mendorong penguatan kerja sama antara perguruan tinggi, industri, lembaga pemerintah, dan organisasi media di kedua pihak sebagai langkah konkret memperdalam kemitraan strategis ini.

Tag: ASEAN, China, Malaysia, ekonomi digital, geopolitik