Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Semen Langka dan Mahal di Aceh, DPR Pertanyakan Rantai Pasok PT Solusi Bangun Andalas

2026-08-14 06:09 WIB · aindari · 👁 494 dibaca

Meski Aceh memiliki pabrik semen sendiri, harga di sejumlah daerah justru lebih tinggi dibanding Medan, dan pasokan harian masih defisit sekitar 500 ton.

Kelangkaan semen di sejumlah wilayah Aceh mendapat sorotan serius dari anggota DPR RI Komisi VII daerah pemilihan Aceh I, Teuku Zulkarnaini atau yang dikenal sebagai Ampon Bang. Ia mempertanyakan mengapa masyarakat kesulitan memperoleh semen dengan harga wajar, padahal Aceh memiliki fasilitas produksi sendiri di Lhoknga, Aceh Besar.

Berdasarkan informasi yang diterima Ampon Bang, harga semen kemasan 40 kilogram saat ini bervariasi antara Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per sak di sebagian wilayah, dan melonjak hingga Rp90 ribu—Rp110 ribu per sak di daerah lain. Angka itu jauh di atas harga yang berlaku di Medan, Sumatera Utara, yang pada awal Agustus berkisar Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per sak. Kesenjangan ini dinilai janggal secara logika ekonomi karena keberadaan produsen lokal semestinya memangkas rantai distribusi dan menekan biaya.

Data yang diperoleh Ampon Bang menunjukkan bahwa PT Solusi Bangun Andalas saat ini mampu memproduksi sekitar 3.700 ton semen per hari atau setara 92.500 sak. Sementara itu, kebutuhan Aceh diperkirakan mencapai 4.200 ton per hari atau sekitar 105.000 sak. Artinya, terdapat indikasi defisit sekitar 500 ton atau 12.500 sak setiap harinya. Yang memperumit situasi, kapasitas produksi perusahaan disebut tidak mengalami penurunan—bahkan meningkat dibanding tahun sebelumnya—sehingga akar masalah diduga bukan pada sisi produksi.

Ampon Bang menegaskan persoalan ini tidak bisa dipandang semata sebagai urusan perdagangan biasa. Aceh tengah berada dalam fase pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir 2025, sehingga ketersediaan dan keterjangkauan semen langsung berdampak pada kecepatan rehabilitasi rumah warga. Kenaikan harga yang tidak terkendali berpotensi membebani biaya pembangunan, memperlambat rekonstruksi, dan menambah tekanan bagi masyarakat yang baru saja tertimpa bencana.

Untuk mengurai persoalan ini, Ampon Bang menyatakan akan mendalami sejumlah aspek secara langsung: kapasitas dan realisasi produksi, volume stok, pola distribusi antarwilayah, struktur harga dari pabrik hingga pengecer, serta efektivitas langkah penambahan pasokan dari luar Aceh dan peningkatan jam operasional terminal pengisian semen. Ia meminta seluruh data dibuka secara transparan agar akar masalah—apakah terletak pada stok, distribusi, alokasi, transportasi, jaringan distributor, atau pembentukan harga—dapat diidentifikasi dengan jelas.

Menurutnya, penyelesaian masalah tidak cukup hanya dengan mendorong peningkatan produksi. Pemerintah, produsen, dan seluruh rantai distribusi harus memastikan semen benar-benar sampai ke tangan masyarakat dengan sebaran yang merata dan harga yang rasional. Ketersediaan semen, tegasnya, merupakan bagian dari ketahanan pembangunan Aceh yang tidak boleh diabaikan.

Tag: semen, Aceh, kelangkaan, distribusi, pascabencana