Sanksi Ekonomi Belum Pernah Ada Sebelumnya Menanti Iran Pekan Depan
2026-08-14 10:01 WIB · aindari · 👁 322 dibaca

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan paket sanksi bersejarah terhadap Iran yang akan diberlakukan dalam waktu dekat, di tengah ketegangan militer yang masih berlanjut.
Amerika Serikat bersiap menjatuhkan sanksi ekonomi dengan skala yang diklaim belum pernah diterapkan terhadap negara mana pun sepanjang sejarah. Pernyataan itu disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam sebuah wawancara dengan Newsmax, yang menyebut pengumuman resmi akan datang pekan depan.
Bessent menggambarkan paket tersebut sebagai kombinasi isolasi ekonomi yang belum pernah ada sebelumnya sekaligus upaya pemblokiran lebih lanjut terhadap Selat Hormuz — jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi urat nadi ekspor minyak kawasan.
Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump pada 8 Juli mengumumkan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak tidak lagi berlaku. Nota kesepahaman itu sendiri ditandatangani untuk mengakhiri konflik yang bermula sejak 28 Februari. Setelah pernyataan Trump, pasukan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut tindakan itu sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran tidak tinggal diam. Militernya membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan AS di kawasan Timur Tengah, sehingga eskalasi antara dua negara itu semakin sulit dikendalikan. Namun, pada awal Agustus, Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan lanjutan terhadap Iran dengan alasan adanya potensi kesepakatan damai. Kesepakatan yang dimaksud mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta perundingan soal program nuklir Iran.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa Teheran dan Muscat telah mencapai kesepakatan mengenai rincian geografis rute pelayaran bagi kapal-kapal yang melintas di selat tersebut — sebuah langkah yang menunjukkan Iran masih membuka ruang diplomasi meski tekanan dari AS terus meningkat.
Dengan ancaman sanksi baru yang disebut belum pernah ada presedennya, situasi ini berpotensi memperumit upaya negosiasi yang tengah berjalan. Pasar energi global pun berisiko terdampak mengingat Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Sejauh mana sanksi tersebut akan memengaruhi dinamika perundingan maupun stabilitas kawasan masih bergantung pada langkah konkret yang diumumkan Washington pekan depan.
Tag: Iran, Sanksi AS, Selat Hormuz, Scott Bessent, Timur Tengah