Gempa M 7,7 di NTT Soroti Kerawanan Tektonik Nusa Tenggara
2026-08-15 12:31 WIB · aindari · 👁 844 dibaca

Gempa kuat di Nusa Tenggara Timur kembali menegaskan posisi Nusa Tenggara sebagai kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi dan potensi bahaya geologi.
Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur menjadi pengingat bahwa wilayah Nusa Tenggara berada di salah satu zona tektonik aktif di Indonesia. Dosen Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Mataram, Aji Syailendra, menilai kejadian tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari dinamika geologi kawasan yang memang memiliki tingkat kegempaan tinggi.
Aji menjelaskan, Nusa Tenggara dipengaruhi oleh sejumlah struktur sesar aktif. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik belakang busur Flores. Keberadaan struktur semacam ini membuat kawasan tersebut tidak hanya rentan terhadap gempa, tetapi juga perlu diwaspadai dari sisi potensi bencana geologi lain.
Gempa M 7,7 yang terjadi di NTT tercatat berpusat di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur. Titik pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Lokasi yang berada di laut menjadi salah satu alasan otoritas sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa terjadi.
Menurut Aji, karakter sesar naik di dasar laut patut diperhatikan karena pergerakan mendadak pada bidang sesar dapat mengubah posisi dasar laut secara vertikal. Perubahan tersebut bisa mendorong kolom air di atasnya. Dalam kondisi tertentu, mekanisme ini berpotensi menimbulkan tsunami, meski tidak setiap gempa bawah laut otomatis menghasilkan gelombang besar.
Catatan sejarah menunjukkan Nusa Tenggara pernah mengalami dampak sangat besar akibat gempa tektonik. Pada 12 Desember 1992, gempa Flores memicu tsunami yang menerjang Maumere dan Pulau Babi. Tinggi gelombang saat itu dilaporkan mencapai sekitar 26 meter dan menyebabkan lebih dari 2.500 orang meninggal dunia.
Aji menekankan bahwa dari perspektif geologi, Nusa Tenggara bukan sekadar daerah yang kerap diguncang gempa. Kawasan ini berada dalam sistem tektonik aktif dengan ancaman yang mencakup gempa bumi hingga tsunami. Dalam kejadian terbaru, Gubernur NTT Melki Laka Lena sebelumnya menyebut lima orang meninggal dunia akibat gempa tektonik M 7,7 di Mbay, Kabupaten Nagekeo. BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami dan kemudian menyatakan peringatan itu berakhir pada pukul 08.30 WITA.
Tag: gempa NTT, Nusa Tenggara, tektonik, tsunami, geologi