Tiga Rumah Rancangan BRIN Lolos Ujian Gempa M7,7 di NTT Tanpa Retak Struktural
2026-08-18 17:08 WIB · aindari · 👁 657 dibaca
Purwarupa rumah tahan gempa buatan BRIN di Manggarai Barat bertahan dari guncangan gempa bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 tanpa mengalami kerusakan struktural.
Tiga unit purwarupa rumah tahan gempa yang dibangun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, berhasil melewati ujian sesungguhnya ketika gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah itu pada 15 Agustus 2026. Meski diikuti serangkaian gempa susulan, ketiga bangunan tersebut tetap berdiri kokoh.
Pemantauan lapangan yang dilakukan BRIN tidak menemukan retak pada dinding, kolom, maupun fondasi ketiga rumah itu. Satu-satunya kerusakan yang tercatat bersifat kosmetik: sebagian keramik dinding kamar mandi terlepas dari panel sandwich EPS dan pecah akibat guncangan. Perekayasa BRIN, Vian Marantha Haryanto, menyebut hasil ini sebagai bukti bahwa desain dan metode konstruksi yang diterapkan mampu melindungi struktur bangunan sekaligus keselamatan penghuninya.
Ketiga rumah tersebut dibangun pada 2021–2022, awalnya sebagai bagian dari program pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang dirintis Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Setelah seluruh lembaga riset pemerintah diintegrasikan ke dalam BRIN, proyek ini dilanjutkan oleh lembaga tersebut. Lokasi pembangunan di NTT dipilih karena wilayah itu termasuk kawasan dengan risiko kegempaan tinggi.
Salah satu teknologi kunci yang digunakan adalah rubber bearing seismic, hasil penelitian Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN. Komponen ini terbuat dari karet alam atau polimer elastis dan bekerja dengan cara memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika gempa menghasilkan gaya geser, rubber bearing dirancang menahan gaya tersebut sehingga dampak guncangan yang diterima bangunan berkurang secara signifikan.
Meski kondisi lapangan menunjukkan hasil yang baik, BRIN belum menganggap validasi selesai. Lembaga itu berencana melakukan uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur, dengan pelaksanaan yang direncanakan pada 2026. Pengujian skala laboratorium ini dimaksudkan untuk memperoleh konfirmasi teknis yang lebih ketat terhadap performa material dan struktur.
Selain ketahanannya terhadap gempa, rumah rancangan BRIN ini juga bersifat modular, sehingga berpotensi dijadikan model dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi hunian pascabencana. BRIN mendorong agar desain ini dapat direplikasi lebih luas, tidak hanya di NTT, tetapi juga di berbagai wilayah rawan gempa lain di Indonesia, sebagai langkah konkret memperkuat keselamatan hunian masyarakat.
Tag: BRIN, rumah tahan gempa, gempa NTT, rubber bearing seismic, teknologi konstruksi