Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Jaringan Jamur Bawah Tanah Sepanjang 11.000 Tahun Cahaya Terancam Aktivitas Pertanian

2026-08-21 06:15 WIB · aindari · 👁 338 dibaca

Jaringan jamur mikoriza arbuskular yang membentang luar biasa luas di bawah tanah menyimpan ratusan megaton karbon, namun kini menghadapi ancaman serius dari alih fungsi lahan.

Di bawah permukaan tanah yang kita pijak setiap hari, tersembunyi jaringan biologis dengan skala yang sulit dibayangkan. Jaringan yang dibentuk oleh jamur mikoriza arbuskular (AM) ini memiliki panjang total mencapai 11.000 tahun cahaya — sebuah angka yang melampaui batas imajinasi dan menjadikannya salah satu struktur biologis paling masif di Bumi.

Jamur AM hidup bersimbiosis di dalam dan di sekitar akar tanaman. Hubungan ini bukan sekadar tumpang tindih; keduanya saling bergantung. Tanaman menyuplai gula hasil fotosintesis kepada jamur, sementara jamur membantu tanaman menyerap air dan nutrisi dari tanah dengan jangkauan yang jauh melampaui kemampuan akar biasa.

Selain perannya dalam ekosistem akar, jaringan jamur AM ternyata menyimpan fungsi iklim yang signifikan. Jaringan ini diperkirakan menyimpan sekitar 300 megaton karbon di dalam tanah. Kemampuan penyerapan karbon dalam skala sebesar itu menempatkan jamur AM sebagai pemain penting dalam siklus karbon global, meski selama ini keberadaannya jarang mendapat perhatian publik.

Namun, jaringan bawah tanah yang terbentuk selama ribuan tahun ini kini berada dalam tekanan besar. Alih fungsi lahan untuk keperluan pertanian menjadi ancaman utama. Praktik pertanian konvensional — termasuk pembajakan tanah, penggunaan pupuk kimia sintetis, dan monokultur — diketahui merusak struktur miselium jamur AM yang rapuh. Ketika tanah dibajak atau komposisi kimianya berubah drastis, jaringan yang telah tumbuh perlahan selama bertahun-tahun bisa hancur dalam waktu singkat.

Kerusakan jaringan jamur AM tidak hanya berdampak pada kesehatan tanah secara langsung. Jika karbon yang tersimpan di dalamnya terlepas akibat gangguan ekosistem bawah tanah, hal itu berpotensi memperburuk konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Para peneliti menilai perlindungan terhadap jaringan ini perlu masuk dalam pertimbangan kebijakan pertanian dan konservasi tanah yang lebih luas.

Temuan mengenai skala dan fungsi jaringan jamur AM ini mendorong para ilmuwan untuk mendesak perubahan pendekatan dalam pengelolaan lahan. Metode pertanian yang lebih ramah terhadap mikroorganisme tanah, seperti pengurangan pembajakan dan rotasi tanaman, disebut sebagai langkah yang dapat membantu mempertahankan jaringan vital ini agar tetap berfungsi sebagai penyimpan karbon sekaligus penopang kesuburan tanah.

Tag: jamur mikoriza, karbon tanah, ekosistem bawah tanah, alih fungsi lahan, sains lingkungan