1.800 Ton Emas Tersimpan di Tangan Masyarakat, Pemerintah Incar 20 Persen Masuk Ekosistem Bulion
2026-08-23 17:06 WIB · aindari

Emas senilai Rp 4.474 triliun yang disimpan masyarakat secara mandiri menjadi incaran pemerintah untuk diintegrasikan ke dalam sistem keuangan emas nasional yang baru diluncurkan.
Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang selama ini belum teroptimalkan: sekitar 1.800 ton emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi — tidak di perbankan, tidak di lembaga investasi resmi. Dengan nilai mencapai Rp 4.474 triliun, simpanan yang kerap disebut emas 'di bawah bantal' ini setara dengan aset yang mampu bersaing dengan cadangan emas sejumlah negara besar, termasuk China.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong agar setidaknya 20 persen dari total emas tersebut dapat masuk ke dalam ekosistem bulion nasional. Langkah ini sejalan dengan peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA), sebuah asosiasi yang dirancang untuk membangun infrastruktur pasar emas dalam negeri secara lebih terstruktur dan transparan.
Keberadaan IBMA diharapkan menjadi jembatan antara kepemilikan emas masyarakat yang selama ini bersifat pasif dengan sistem keuangan yang lebih produktif. Dengan ekosistem bulion yang berfungsi, emas yang tersimpan secara diam-diam berpotensi digerakkan sebagai instrumen ekonomi — baik melalui skema tabungan emas, gadai, maupun instrumen investasi berbasis logam mulia lainnya.
Di sisi pasar modal, peluncuran IBMA turut menarik perhatian terhadap sejumlah emiten yang bergerak di sektor emas. Saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) disebut-sebut berpeluang meraup manfaat dari tumbuhnya ekosistem ini. Keduanya dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok dan distribusi emas nasional yang lebih formal.
Para ekonom menilai besarnya volume emas yang tersimpan di luar sistem mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa instrumen keuangan formal belum sepenuhnya mampu menarik minat masyarakat untuk menitipkan aset berharga mereka.
Upaya mengintegrasikan emas masyarakat ke dalam ekosistem bulion bukan tanpa tantangan. Kepercayaan, kemudahan akses, serta insentif yang memadai menjadi faktor penentu apakah target 20 persen yang dicanangkan pemerintah dapat terwujud. Jika berhasil, mobilisasi emas senilai hampir Rp 900 triliun itu berpotensi memperkuat likuiditas pasar emas domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar emas internasional.
Tag: emas, bulion, IBMA, Airlangga Hartarto, investasi emas