Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Gaya Hidup

Saat Rutinitas dan Ketidaksempurnaan Dibingkai Jadi Keren

2026-08-25 17:05 WIB · aindari · 👁 492 dibaca

Tren “kinda chic” di media sosial mengajak pengguna memberi nilai positif pada hal-hal biasa, tidak rapi, atau jauh dari standar glamor.

Istilah “kinda chic” sedang ramai dipakai di media sosial untuk menyebut hal-hal yang tampak sederhana, kurang sempurna, bahkan kadang dianggap tidak sesuai ekspektasi sosial, tetapi tetap dipandang menarik. Laporan Psychology Today pada Senin (17/8) menyebut frasa “kinda chic to” makin sering muncul di TikTok, Instagram, dan berbagai platform lain.

Secara bahasa, “kinda” berasal dari bentuk singkat “kind of”, sedangkan “chic” berarti bergaya atau elegan. Namun, dalam percakapan digital, maknanya bergeser. Ungkapan itu tidak selalu menunjuk sesuatu yang benar-benar modis, melainkan memberi bingkai positif pada pengalaman yang biasanya dianggap terlalu biasa untuk dirayakan.

Pengguna media sosial memakainya untuk menggambarkan aktivitas harian seperti mencuci baju, membuang sampah, memakai benang gigi, atau memilih tidur lebih cepat. Dengan cara itu, rutinitas yang jauh dari kesan glamor seolah diberi ruang untuk tetap terlihat bernilai. Pesannya sederhana: hidup sehari-hari tidak harus selalu tampak sempurna agar pantas diapresiasi.

Tren ini juga menjadi cara menertawakan momen canggung dan ketidaksempurnaan. Menumpahkan makanan atau minuman ke pakaian, mendapati gigi berubah kebiruan setelah makan blueberry, sampai rambut yang tampak berantakan bisa disebut “kinda chic”. Ungkapan tersebut memberi jarak dari rasa malu dan mengubah kekacauan kecil menjadi sesuatu yang lebih ringan.

Dalam konteks perawatan diri, istilah itu dipakai untuk pilihan yang menunjukkan batas pribadi. Tidak minum alkohol di pesta, meminta makanan dengan kadar garam lebih rendah, atau menjauh dari orang yang dinilai memberi pengaruh buruk dapat dibingkai sebagai “kinda chic”. Di sini, kesan keren muncul bukan dari penampilan, melainkan dari keberanian memilih hal yang dianggap lebih baik bagi diri sendiri.

Maknanya juga meluas ke penolakan terhadap stereotip. Makan sendiri di restoran, tetap melajang, bekerja di bidang yang dianggap kurang bergengsi, atau menjalani hidup dengan tempo pribadi bisa masuk dalam narasi yang sama. Aktris Drew Barrymore pernah memakai istilah itu untuk menggambarkan bahwa berada di usia 50-an tetap dapat terasa menarik. Model Ashley Graham juga menggunakan ungkapan serupa saat membahas selulit yang tidak menghalanginya tampil di panggung Victoria’s Secret.

Meski begitu, “kinda chic” tidak lepas dari kritik. Sebagian pengguna menilai frasa ini terlalu sering dipakai hingga terasa kurang tulus. Ada pula risiko ungkapan tersebut berubah menjadi humblebrag, yaitu cara halus untuk membanggakan diri. Pada satu sisi, tren ini dapat membantu orang menerima keunikan diri dan melawan standar sosial yang membatasi. Pada sisi lain, ia bisa menjadi tren sesaat yang dipakai untuk membangun citra atau promosi diri.

Tag: gaya hidup, media sosial, kinda chic, tren digital, perawatan diri