PLN Bangun PLTS 1.000 MWp di Bali, Energi Surya Gantikan BBM Impor
2026-08-26 06:06 WIB · aindari · 👁 441 dibaca

Proyek PLTS Gilimanuk dilengkapi sistem penyimpanan baterai raksasa untuk memastikan listrik tetap mengalir dari siang hingga malam hari.
PLN resmi meluncurkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Gilimanuk, Jembrana, Bali, dengan target kapasitas mencapai 1.000 megawatt peak (MWp). Proyek ini dirancang bukan sekadar pembangkit surya biasa — ia dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 3,3 gigawatt hour (GWh) yang menjadi pembeda utama dibanding instalasi PLTS konvensional.
Keunggulan sistem penyimpanan baterai skala besar ini terletak pada kemampuannya mengatasi keterbatasan mendasar energi surya: ketersediaan yang hanya optimal di siang hari. Energi yang diproduksi pada pukul 10.00–14.00 WITA — saat intensitas matahari paling tinggi — dapat disimpan dan disalurkan kembali pada sore hingga malam hari, tepat ketika konsumsi listrik berbasis BBM selama ini paling besar terjadi.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut proyek ini sebagai pergeseran mendasar dalam sistem kelistrikan Bali: dari ketergantungan pada bahan bakar impor yang mahal menuju energi domestik terbarukan yang lebih terjangkau. Seluruh daya yang dihasilkan akan disalurkan melalui jaringan transmisi tegangan tinggi 150 kilovolt (kV), menjangkau kawasan Denpasar, Nusa Dua, Kuta, hingga Sanur — meski lokasi pembangkit berada di ujung barat pulau.
Pada tahap awal, kapasitas yang dibangun di lahan seluas 320 hektare itu mencapai 300 MWp. PLN mengakui potensi proyek belum maksimal di fase ini, namun ketika kapasitas 300 MWp tercapai, kawasan tersebut diperkirakan turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Survei lahan kering untuk perluasan kapasitas juga sedang berjalan di wilayah Buleleng dan Karangasem.
Proyek Gilimanuk merupakan bagian dari akselerasi target nasional pengembangan energi surya sebesar 100 gigawatt peak (GWp) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. PLN menilai pencapaian target itu bisa dipercepat lewat kolaborasi lintas kementerian, termasuk Kementerian ESDM, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN.
Gubernur Bali Wayan Koster menyambut proyek ini sebagai langkah yang selaras dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih. Koster menyoroti bahwa konsumsi BBM di Bali saat ini mencapai 500.000 kiloliter — angka yang ia harap bisa ditekan signifikan oleh kehadiran PLTS ini. Di sisi lain, ia juga melihat potensi dampak tidak langsung: citra pariwisata Bali yang lebih hijau di mata wisatawan mancanegara. Pemprov Bali menyatakan kesiapannya mendukung pemanfaatan lahan negara yang tidak produktif untuk memperluas pengembangan PLTS ke depan.
Tag: PLTS, energi terbarukan, PLN, Bali, BESS