Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Nasional

Kunjungi Museum Tsunami Aceh, Dirut ANTARA Serukan Penguatan Mitigasi Bencana Berbasis Informasi

2026-08-26 06:13 WIB · aindari · 👁 321 dibaca

Direktur Utama LKBN ANTARA menegaskan kantor berita nasional harus melampaui peran pelaporan dan aktif membangun ekosistem informasi peringatan dini bencana.

Kunjungan ke Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh mendorong Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, untuk merefleksikan peran strategis kantor berita dalam kesiapsiagaan bencana. Bagi Benny, museum itu bukan sekadar situs peringatan, melainkan pengingat nyata bahwa Indonesia — yang berada di kawasan cincin api — tidak pernah benar-benar bebas dari ancaman bencana alam.

Benny mengunjungi museum tersebut bersama sejumlah pejabat ANTARA, termasuk Sekretaris Perusahaan Sella Gareta, GM SDM Arif Mujayatno, dan Kepala Biro Aceh Febrianto Budi Anggoro. Dalam kunjungan itu, ia menekankan bahwa alam sejatinya telah memberikan sinyal peringatan berulang kali, namun manusia kerap mengabaikannya. Karena itu, menurutnya, membangun sistem dan ekosistem mitigasi bencana adalah keharusan, bukan pilihan.

Museum Tsunami Aceh, kata Benny, juga menyimpan harapan: bahwa langkah-langkah konkret masih bisa diciptakan, mulai dari sistem informasi yang lebih baik hingga pembangunan gedung tahan gempa. Ia membandingkan museum ini dengan museum bencana di Kobe, Jepang, yang sama-sama berfungsi sebagai pengingat sekaligus pendorong kerja sama global dalam penanggulangan bencana.

Salah satu contoh kearifan lokal yang ia soroti adalah tradisi syair Smong di Kepulauan Simeulue, Aceh. Masyarakat setempat secara turun-temurun melantunkan syair tentang tsunami dalam berbagai kesempatan, bahkan menjadikannya nyanyian pengantar tidur anak. Tradisi inilah yang diyakini menjadi faktor penting mengapa saat tsunami 2004 menerjang, korban jiwa di Simeulue hanya tujuh orang meski gelombangnya sangat dahsyat.

Dari situ, Benny menegaskan bahwa ANTARA semestinya mengambil peran lebih dari sekadar menyiarkan berita pascabencana. Kantor berita nasional itu, menurutnya, harus mampu membangun narasi mitigasi berbasis kearifan lokal dan menjadi bagian dari sistem peringatan dini — menyebarkan informasi yang memungkinkan masyarakat maupun pemerintah mengambil keputusan cepat dan tepat saat bencana terjadi.

Benny merangkum visi itu dengan menyebut peran kantor berita bukan semata urusan berita, melainkan kontribusi sosial yang lebih luas: memberi peringatan, memperkuat penyebaran informasi, dan mendorong lahirnya kerja sama serta keputusan yang menyelamatkan nyawa.

Tag: Museum Tsunami Aceh, LKBN ANTARA, mitigasi bencana, kearifan lokal, peringatan dini