Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Teknologi

ITDP: Transportasi Publik Harus Jadi Garda Depan Elektrifikasi Kendaraan

2026-08-27 06:08 WIB · aindari · 👁 771 dibaca

ITDP Indonesia menyebut bus listrik lebih mudah direncanakan dan lebih hemat biaya operasional dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.

Elektrifikasi kendaraan di Indonesia dinilai paling efektif dimulai dari sektor transportasi publik, bukan kendaraan pribadi. Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia menegaskan posisi ini dengan menyodorkan empat argumen utama mengapa bus listrik seharusnya menjadi prioritas dalam transisi energi di sektor mobilitas.

Direktur Asia Tenggara ITDP, Gonggomtua Sitanggang, menjelaskan bahwa dampak penggunaan bus listrik jauh lebih terasa dibanding elektrifikasi kendaraan pribadi. Sebuah bus listrik di Jakarta mampu menempuh jarak hingga 200 kilometer dalam satu hari, sehingga pengurangan emisi yang dihasilkan per unit kendaraan jauh lebih besar. Ini menjadi alasan pertama mengapa ITDP mendorong elektrifikasi dimulai dari armada publik.

Argumen kedua menyangkut efisiensi biaya. Menurut Gonggomtua, biaya operasional bus listrik saat ini sudah lebih rendah dibanding bus berbahan bakar konvensional, terutama untuk kategori bus besar dan mikrobus. Angka dari TransJakarta memperkuat klaim ini: satu unit bus listrik berpotensi menghemat subsidi bahan bakar pemerintah hingga Rp302 juta per tahun. Jika dihitung secara kumulatif selama 5,5 tahun operasional, penghematan per unit bisa mencapai Rp3,9 miliar — setara harga satu unit bus listrik berukuran 12 meter. Penghitungan itu mempertimbangkan selisih harga solar bersubsidi dengan BBM komersial serta efisiensi operasional bus listrik dibanding bus mesin pembakaran internal.

Alasan ketiga adalah kemudahan perencanaan. Berbeda dengan kendaraan pribadi yang pergerakannya tidak terprediksi, bus umum beroperasi dengan rute, frekuensi, dan titik pemberhentian yang sudah terstruktur. Kondisi ini membuat integrasi teknologi baru seperti bus listrik menjadi lebih mudah dirancang dan diimplementasikan.

Alasan keempat bersifat strategis: ITDP memandang transisi ke bus listrik bukan sekadar penggantian jenis bahan bakar, melainkan sebagai momentum untuk mereformasi dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik secara menyeluruh. Gonggomtua menyatakan, mengingat biaya operasional yang sudah kompetitif, tidak ada alasan untuk tidak langsung memilih bus listrik dalam setiap perencanaan layanan angkutan umum baru.

Dorongan ITDP ini sejalan dengan target Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo yang menginginkan 10.000 unit bus berbasis listrik, hidrogen, dan hibrida beroperasi di Jakarta pada 2030. Target tersebut dirancang sebagai bagian dari upaya menekan polusi udara di ibu kota yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan paling mendesak.

Tag: bus listrik, transportasi publik, ITDP, elektrifikasi, emisi karbon