JAFF Market Jadi Jembatan Sineas Australia Masuk Industri Film Asia Tenggara
2026-08-31 17:04 WIB · aindari · 👁 789 dibaca

Melalui program 'Producers Exchange', belasan produser dan sineas Australia mendapat akses langsung untuk membangun kemitraan dengan pelaku industri film Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) membuka pintu bagi sineas dan produser Australia untuk menjajaki peluang kolaborasi di Indonesia. Ini terwujud lewat program bernama 'Producers Exchange' yang digagas bersama Adelaide Film Festival (AFF) dan mylab dalam ajang JAFF Market, yang tahun ini memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya di Yogyakarta pada 28–30 November 2026.
Program tersebut dirancang bukan sekadar mempertemukan proyek-proyek individual, melainkan membangun relasi jangka panjang antara industri perfilman Australia dan Asia Tenggara. Direktur JAFF Market Linda Gozali menyebut kehadiran 'Producers Exchange' berdampingan dengan platform kurasi JAFF Future Project (JFP) sebagai langkah memperluas percakapan antarindustri ke level yang lebih strategis.
Adapun jenis proyek yang dibidik mencakup film panjang fiksi, animasi, dan dokumenter asal Australia. AFF secara khusus memprioritaskan karya yang memiliki keterkaitan cerita atau proses produksi dengan Indonesia, terutama yang masih berada pada tahap pengerjaan atau work-in-progress. Setiap proyek yang lolos seleksi akan mendapat satu perwakilan — baik produser maupun penulis-sutradara — yang menerima bantuan perjalanan untuk hadir di JAFF Market Yogyakarta.
Tak hanya soal kehadiran fisik, program ini juga memfasilitasi 12 sineas dan produser Australia terpilih untuk bertemu langsung dengan calon mitra industri di kawasan Asia-Pasifik melalui mekanisme penjajakan mitra secara terbuka. Layanan tersebut dikelola oleh mylab, dengan fokus membantu peserta memahami lanskap dan peluang industri film di kawasan ini. Pendiri sekaligus kurator mylab, Lorna Tee, menyatakan harapannya agar program ini mendorong lebih banyak pelaku industri dari kedua sisi untuk berkembang bersama.
CEO sekaligus Direktur Kreatif AFF Mat Kesting menegaskan bahwa kemitraan dengan JAFF bukan hubungan baru. Menurutnya, kolaborasi yang sudah terjalin lama ini mencerminkan komitmen AFF dalam membangun hubungan budaya dan kreatif dengan negara-negara tetangga di kawasan, dan ia berharap kemitraan itu terus berlanjut dalam jangka panjang.
Seluruh fasilitas peserta — mulai dari akreditasi pasar, akses pertemuan, hingga bantuan perjalanan ke Yogyakarta — dibiayai oleh Office for the Arts Pemerintah Australia melalui inisiatif Festival Bridges. Program ini digagas AFF dan sebelumnya juga telah mendukung partisipasi sineas Australia di berbagai forum internasional, termasuk Marché du Film di Festival Film Cannes, Prancis.
Kehadiran program 'Producers Exchange' di JAFF Market memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu simpul penting dalam ekosistem perfilman Asia-Pasifik, sekaligus membuka ruang bagi karya-karya Australia untuk menemukan mitra produksi dan distribusi di pasar yang terus berkembang ini.
Tag: JAFF Market, Producers Exchange, Adelaide Film Festival, perfilman Indonesia, kolaborasi film Asia-Pasifik