Prabowo Bidik 700 BUMN untuk Ditutup, Klaim Penghematan Bisa Capai Rp100 Triliun
2026-09-01 09:01 WIB · aindari · 👁 422 dibaca

Pemerintah menargetkan penutupan sekitar 700 BUMN hingga akhir 2026 sebagai bagian dari program perampingan besar-besaran yang diklaim mampu menghemat anggaran negara hingga Rp100 triliun.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyiapkan langkah perampingan masif terhadap perusahaan-perusahaan milik negara. Sekitar 700 BUMN ditargetkan ditutup sebelum akhir tahun 2026, menyusul penutupan 290 BUMN yang diklaim telah lebih dulu dilakukan dan menghasilkan penghematan sekitar Rp50 triliun.
Dengan target penutupan tambahan tersebut, total penghematan yang diproyeksikan pemerintah bisa mencapai Rp100 triliun. Angka ini menjadi salah satu justifikasi utama di balik kebijakan konsolidasi BUMN yang skalanya belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pengelolaan perusahaan negara di Indonesia.
Program ini tidak berdiri sendiri. Langkah penutupan BUMN berjalan beriringan dengan rencana Danantara — badan pengelola investasi negara — yang disebut akan menggabungkan sejumlah perusahaan pelat merah, termasuk PTPP dan ADHI, dalam skema konsolidasi yang lebih luas. Penggabungan ini dimaksudkan untuk menciptakan entitas yang lebih efisien dan berdaya saing.
Pertanyaan yang muncul di publik adalah soal kriteria seleksi: BUMN mana saja yang masuk daftar sasaran perampingan? Dari berbagai pemberitaan, perusahaan-perusahaan yang dinilai tidak produktif, merugi secara konsisten, atau memiliki fungsi yang tumpang tindih dengan BUMN lain menjadi kandidat utama. Namun pemerintah belum merinci secara terbuka daftar lengkap entitas yang akan ditutup.
Kebijakan ini berpotensi membawa dampak ganda. Di satu sisi, efisiensi anggaran yang ditargetkan dapat memperkuat ruang fiskal negara untuk dialihkan ke program prioritas lain. Di sisi lain, penutupan ratusan perusahaan dalam rentang waktu kurang dari dua tahun menimbulkan pertanyaan soal nasib tenaga kerja yang terdampak serta aset-aset yang harus dikelola atau dilikuidasi.
Dari sisi sentimen pasar, konsolidasi besar-besaran di sektor BUMN — termasuk rencana penggabungan sejumlah emiten pelat merah — berpotensi mempengaruhi pergerakan saham perusahaan-perusahaan terkait, meski arah dan besaran dampaknya akan bergantung pada detail eksekusi kebijakan yang belum sepenuhnya diumumkan.
Program perampingan ini mencerminkan orientasi pemerintah Prabowo untuk memangkas struktur korporasi negara yang dianggap terlalu gemuk. Keberhasilannya akan diukur bukan hanya dari angka penghematan yang diklaim, tetapi juga dari seberapa tertib dan transparan proses penutupan serta konsolidasi tersebut dijalankan hingga batas waktu akhir 2026.
Tag: BUMN, Prabowo Subianto, Danantara, efisiensi anggaran, konsolidasi BUMN