AS Pertimbangkan Akhiri Operasi Militer di Iran, Beralih ke Tekanan Ekonomi
2026-09-04 08:31 WIB · aindari · 👁 778 dibaca

Trump dilaporkan mendiskusikan kemungkinan mengakhiri operasi militer terhadap Iran sambil mengandalkan tekanan ekonomi untuk menghentikan program nuklir Teheran.
Pemerintahan Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah besar dalam konfliknya dengan Iran. Menurut laporan The Wall Street Journal yang terbit Rabu (2/9) dan mengutip pejabat Amerika Serikat, Trump secara tertutup mendiskusikan kemungkinan pengumuman berakhirnya operasi militer terhadap negara itu bersama para penasihat seniornya.
Meski mendukung gagasan mengakhiri konflik tersebut, Trump sekaligus meyakini bahwa tekanan ekonomi yang cukup kuat mampu memaksa pemerintah Iran menghentikan program nuklirnya — atau bahkan membuat rezim itu runtuh dari dalam. Keyakinan ini sejalan dengan pergeseran taktik yang dilaporkan CNN, di mana AS disebut sedang berupaya mengubah pendekatannya menjadi strategi "pencekikan" ekonomi secara bertahap, bergeser dari pendekatan militer yang telah berjalan sejak akhir Februari lalu.
Pada 19 Agustus, Trump telah mengumumkan operasi ekonomi terhadap Iran dalam bentuk isolasi yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus mendesak sekutu-sekutu AS untuk turut berpartisipasi. Di sisi lain, para penasihat Trump memperingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu November mendatang. Namun Trump disebut tidak memasukkan kalkulasi pemilu dalam pengambilan keputusannya terkait perang.
Di tengah diskusi soal pengakhiran konflik itu, kondisi di lapangan justru menunjukkan gambaran berbeda. Menteri Pertahanan Pete Hegseth secara diam-diam memperpanjang pengerahan pasukan AS di Timur Tengah, membuka peluang konflik berlanjut hingga tahun depan. Saat ini sekitar 19 kapal Angkatan Laut AS beroperasi di kawasan tersebut, terdiri dari dua kapal induk dan 13 kapal penghancur berpeluru kendali, dengan total sekitar 50 ribu personel militer.
Pengerahan dalam skala besar dan durasi panjang ini mulai menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sejumlah unit pertahanan udara telah bertugas selama 12 bulan, melampaui masa tugas normal sembilan bulan, sementara satuan-satuan yang dialihkan dari Eropa bahkan sudah melewati satu tahun penugasan. Beberapa kapal penghancur dengan 300 awak yang semula dikerahkan untuk menyerang Iran kini juga terlibat dalam blokade pelabuhan Iran, mencatatkan rekor ketahanan operasional. Kondisi ini memunculkan risiko kerusakan pada alutsista serta kelelahan di kalangan personel.
Tanpa batas waktu yang jelas untuk penyelesaian misi, Trump secara teknis tetap memiliki ruang untuk mengambil tindakan militer kapan pun. Namun semakin lamanya pengerahan pasukan dalam jumlah besar menjadi tekanan tersendiri bagi Washington untuk segera menentukan arah kebijakan — apakah melanjutkan pendekatan militer, beralih sepenuhnya ke tekanan ekonomi, atau mengumumkan deeskalasi.
Tag: Amerika Serikat, Iran, Timur Tengah, Operasi Militer, Sanksi Ekonomi