Kenaikan BBM Nonsubsidi Dinilai Wajar, tapi Pemerintah Diminta Siapkan Insentif Kelas Menengah
2026-09-05 17:14 WIB · aindari · 👁 677 dibaca

FKBI menyebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi per September 2026 masih dalam batas wajar, namun mengingatkan risiko efek domino terhadap daya beli kelas menengah.
Pertamina resmi menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak nonsubsidi mulai 1 September 2026. Produk yang terdampak meliputi Dexlite, Pertamina Dex, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95, sementara Pertamax tetap di harga lama, dan BBM bersubsidi seperti Pertalite serta Biosolar tidak mengalami perubahan.
Di wilayah Jabodetabek, Dexlite (CN 51) naik dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex (CN 53) melonjak dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Pertamax Turbo bergerak dari Rp18.300 ke Rp19.600 per liter, dan Pertamax Green 95 naik dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter — berlaku mulai 2 September 2026. Pertamax sendiri bertahan di Rp15.950 per liter, tidak berubah sejak Agustus.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai penyesuaian ini masih dapat dibenarkan selama mengacu pada formula yang berlaku dan mempertimbangkan kondisi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa penetapan harga BBM nonsubsidi memang menjadi ranah operator, dengan acuan utama berupa Harga Patokan Minyak Mentah Indonesia (ICP) yang ditetapkan Kementerian ESDM, ditambah faktor kurs rupiah terhadap dolar AS dan tingkat inflasi.
Meski demikian, Tulus mengakui kondisi makroekonomi saat ini cukup menekan kelas menengah. Kelompok ini, menurutnya, pada akhirnya akan menerima kenaikan tersebut karena pilihan yang tersedia memang terbatas. Yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi efek domino — kenaikan biaya transportasi dan logistik yang bisa merambat ke harga barang lain dan berujung pada kelesuan ekonomi yang lebih luas.
Untuk meredam dampak tersebut, Tulus mendorong pemerintah merancang skema insentif bagi kelas menengah, baik melalui jalur fiskal maupun non-fiskal. Salah satu contoh konkret yang ia kemukakan adalah memperkuat subsidi transportasi publik massal di kawasan Jabodetabek. Logikanya, jika beban biaya transportasi pribadi semakin berat, kelas menengah akan terdorong beralih ke angkutan umum — yang pada gilirannya juga membantu mengurangi konsumsi BBM secara keseluruhan.
Kenaikan ini terjadi di tengah tren harga minyak dunia yang sedang bergerak naik, serta tekanan kurs rupiah yang turut memengaruhi komponen biaya impor minyak mentah. Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadi latar belakang penyesuaian yang dilakukan Pertamina, sekaligus menjadi pengingat bahwa harga BBM nonsubsidi bersifat dinamis mengikuti kondisi pasar global.
Tag: BBM nonsubsidi, Pertamina, kelas menengah, FKBI, harga BBM