Bitcoin Gagal Pertahankan Level 80.000 Dolar, Arus ETF dan Kebijakan The Fed Jadi Penentu Arah
2026-09-06 06:04 WIB · aindari · 👁 759 dibaca

Setelah reli kuat sepanjang Agustus, Bitcoin terkoreksi ke kisaran 78.000 dolar AS dan kini memasuki fase pembuktian yang bergantung pada arus dana institusional serta data ekonomi AS.
Bitcoin tidak mampu bertahan di atas level psikologis 80.000 dolar AS dan saat ini bergerak di kisaran 78.000 dolar AS. Padahal sebelumnya aset kripto terbesar di dunia itu sempat melesat sekitar 26 persen dari posisi 62.700 dolar AS hingga menyentuh puncak 81.235 dolar AS dalam reli yang berlangsung sepanjang Agustus.
CEO dan Founder platform investasi kripto FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi yang terjadi belum mengubah prospek Bitcoin secara fundamental. Namun ia menegaskan bahwa pasar kini tengah memasuki fase pembuktian — periode di mana kekuatan permintaan investor akan diuji untuk menentukan apakah harga mampu kembali naik atau justru melanjutkan konsolidasi.
Salah satu indikator yang paling diperhatikan adalah arus dana ke produk exchange-traded fund (ETF). Pada pekan yang berakhir 24 Agustus, ETF Bitcoin dan Ethereum di AS mencatat inflow bersih gabungan sekitar 2,71 miliar dolar AS, dengan Bitcoin menyumbang porsi terbesar senilai 1,92 miliar dolar AS. Namun momentum itu tidak bertahan lama. Data Farside Investors mencatat spot Bitcoin ETF AS membukukan net outflow sekitar 201,9 juta dolar AS pada 28 Agustus, membalik tren positif yang sebelumnya berlangsung beberapa hari berturut-turut. Yudhono menyebut konsistensi arus ETF akan menjadi sinyal penting: jika dana kembali masuk saat Bitcoin berada di rentang 77.000–80.000 dolar AS, itu bisa mengindikasikan investor besar masih memandang koreksi sebagai peluang akumulasi.
Di sisi lain, arah kebijakan moneter Amerika Serikat turut membebani sentimen pasar. Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus direspons sebagai sinyal hawkish oleh pelaku pasar. Warsh menyatakan inflasi AS masih berada di atas target dua persen dan perkembangan dalam beberapa bulan terakhir belum menunjukkan perbaikan yang memadai.
Memasuki September, dua rilis data ekonomi menjadi sorotan utama: data ketenagakerjaan Agustus yang dijadwalkan keluar pada 4 September, serta data Consumer Price Index (CPI) pada 11 September. Keduanya akan menjadi bahan pertimbangan menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Yudhono memperkirakan volatilitas Bitcoin akan tetap tinggi sepanjang bulan ini karena pasar akan sangat sensitif terhadap angka-angka tersebut. Jika data menunjukkan ekonomi mulai melambat tanpa lonjakan inflasi baru, ruang bagi aset berisiko untuk menguat kembali bisa terbuka. Sebaliknya, inflasi yang persisten berpotensi memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin karena mempersempit kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter.
Dalam jangka pendek, zona 80.000–81.000 dolar AS menjadi area kritis. Kemampuan Bitcoin menembus dan bertahan di atas level tersebut akan menentukan apakah resistance itu bisa berubah menjadi support — sebuah pergeseran yang menurut Yudhono baru akan benar-benar bermakna apabila disertai kembalinya arus modal institusional dan kondisi makroekonomi yang lebih mendukung.
Tag: Bitcoin, ETF kripto, The Fed, kebijakan moneter, pasar kripto