Literasi Sains Dinilai Jadi Kunci Utama Mitigasi Bencana Gunung Berapi
2026-09-08 17:02 WIB · aindari · 👁 702 dibaca

Pemahaman masyarakat terhadap ilmu pengetahuan disebut sebagai salah satu instrumen paling efektif dalam mengurangi risiko bencana vulkanik.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia. Kondisi geografis ini menempatkan jutaan warga di kawasan rawan bencana vulkanik, sehingga kesiapsiagaan menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Di sinilah peran literasi sains mulai mendapat perhatian serius sebagai bagian dari strategi mitigasi.
Literasi sains bukan sekadar kemampuan membaca teks ilmiah. Dalam konteks kebencanaan, pemahaman ini mencakup kemampuan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda alam, memahami informasi yang disampaikan oleh lembaga pemantau, serta mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data ilmiah. Gunung berapi, layaknya sistem komunikasi tersendiri, mengeluarkan sinyal-sinyal yang dapat dibaca oleh mereka yang memiliki pengetahuan memadai.
Aktivitas vulkanik umumnya didahului oleh sejumlah indikator yang dapat dipantau, seperti peningkatan frekuensi gempa bumi kecil di sekitar kawah, perubahan suhu dan komposisi gas yang keluar dari fumarol, hingga deformasi permukaan tanah. Pemahaman terhadap sinyal-sinyal ini memungkinkan otoritas dan masyarakat untuk merespons lebih awal sebelum situasi berkembang menjadi krisis.
Namun, pengetahuan di tingkat institusi saja tidak cukup. Ketika peringatan dini dikeluarkan, efektivitasnya sangat bergantung pada sejauh mana warga memahami maksud dan urgensi informasi tersebut. Masyarakat yang melek sains cenderung lebih patuh terhadap arahan evakuasi dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru atau hoaks seputar bencana.
Oleh karena itu, pendidikan sains yang berorientasi pada kehidupan nyata dinilai perlu diperkuat, terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan zona vulkanik aktif. Kurikulum yang mengintegrasikan pemahaman tentang fenomena alam dan kebencanaan dapat membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara ekologis.
Upaya peningkatan literasi sains juga tidak harus terbatas pada ruang kelas formal. Penyebaran informasi ilmiah yang mudah dipahami melalui berbagai media, pelatihan komunitas, serta pelibatan tokoh lokal dalam sosialisasi kebencanaan merupakan pendekatan yang dapat menjangkau kelompok masyarakat lebih luas.
Pada akhirnya, mitigasi bencana yang efektif adalah hasil dari kolaborasi antara teknologi pemantauan, kebijakan pemerintah, dan kesadaran masyarakat. Literasi sains menjadi jembatan yang menghubungkan ketiga elemen tersebut — memastikan bahwa ketika gunung berapi memberikan sinyal, ada cukup banyak orang yang mampu mendengar dan bertindak.
Tag: literasi sains, mitigasi bencana, gunung berapi, pendidikan kebencanaan, vulkanologi