Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

60 Tahun Hari Aksara Internasional: Literasi Masih Jadi Pekerjaan Rumah Dunia dan Indonesia

2026-09-09 17:05 WIB · aindari · 👁 405 dibaca

Diperingati setiap 8 September sejak 1967, Hari Aksara Internasional tahun 2026 memasuki usia ke-60 di tengah kenyataan ratusan juta orang dewasa di dunia masih buta huruf.

Setiap 8 September, dunia memperingati Hari Aksara Internasional sebagai pengingat bahwa kemampuan membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan dasar, melainkan hak fundamental yang menentukan kualitas hidup seseorang. Tahun 2026 menandai peringatan ke-60 sejak hari tersebut pertama kali dirayakan secara internasional pada 1967.

Asal-usul peringatan ini bermula dari keputusan UNESCO dalam Konferensi Umum ke-14 pada 1966, ketika organisasi pendidikan PBB itu memproklamasikan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional. Setahun berselang, peringatan tersebut resmi digelar untuk pertama kalinya dan terus berlangsung tanpa jeda hingga kini. Latar belakangnya adalah keprihatinan global terhadap buta aksara yang dinilai menjadi penghalang utama bagi jutaan orang dalam mengakses pendidikan dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Untuk peringatan ke-60 ini, UNESCO mengusung tema "Literacy for people, the planet and prosperity" — literasi untuk manusia, planet, dan kemakmuran. Tema tersebut tidak hanya merayakan perjalanan enam dekade, tetapi juga membuka ruang untuk mengevaluasi tantangan literasi yang masih belum tuntas. UNESCO menekankan perlunya agenda literasi yang mampu mengikuti laju perubahan dunia, termasuk di era digital yang menuntut kemampuan memahami dan menyaring informasi secara kritis — jauh melampaui sekadar bisa membaca dan menulis.

Angka-angka yang dirilis UNESCO menggambarkan betapa besar pekerjaan rumah yang tersisa. Pada 2024, sedikitnya 739 juta pemuda dan orang dewasa di seluruh dunia masih belum memiliki kemampuan literasi dasar. Di kalangan anak-anak, kondisinya juga mengkhawatirkan: sekitar empat dari sepuluh anak belum mencapai kemampuan membaca minimum, sementara 272 juta anak dan remaja tercatat tidak bersekolah pada 2023.

Indonesia sendiri mencatat kemajuan, namun tantangan belum sepenuhnya teratasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka melek huruf penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 96,67 persen pada 2024. Namun, terdapat kesenjangan antara laki-laki dan perempuan: tingkat melek huruf laki-laki tercatat 97,69 persen, sedangkan perempuan berada di angka 95,66 persen. BPS juga menyediakan data melek aksara hingga 2025 yang dipilah berdasarkan provinsi, wilayah perkotaan dan perdesaan, serta jenis kelamin — data yang berguna untuk memantau pemerataan literasi di berbagai daerah.

Peringatan Hari Aksara Internasional karena itu memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekadar seremonial. Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi, literasi kini mencakup kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis dan memanfaatkan teknologi secara bijak. UNESCO menegaskan bahwa literasi adalah fondasi bagi seseorang untuk mengakses pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial — menjadikannya salah satu pilar terpenting pembangunan sumber daya manusia.

Tag: Hari Aksara Internasional, literasi, UNESCO, pendidikan, melek huruf