PM2,5 di Bandara Soetta Capai Dua Kali Lipat Batas Aman, Kemenkes Catat 16 Ribu Lebih Kasus ISPA Akibat Abu Krakatau
2026-09-11 17:07 WIB · aindari · 👁 547 dibaca

Konsentrasi partikulat halus di sekitar Bandara Soekarno-Hatta masih jauh melampaui ambang batas kesehatan meski penerbangan sudah beroperasi, sementara kasus ISPA di wilayah terdampak terus bertambah.
Erupsi Gunung Anak Krakatau meninggalkan dampak kesehatan yang belum reda. Kementerian Kesehatan mencatat konsentrasi partikulat halus PM2,5 di sejumlah titik luar ruangan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, masih melampaui batas aman ketika diukur pada 8 dan 9 September 2026. Di area Terminal Damri bandara tersebut, angkanya mencapai 63 µg/m³ — lebih dari dua kali lipat batas aman yang ditetapkan sebesar 25 µg/m³.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan ada perbedaan mendasar antara standar yang digunakan otoritas penerbangan dan standar kesehatan masyarakat. Otoritas bandara menggunakan paper test untuk menilai keamanan operasional penerbangan, namun alat itu tidak mengukur konsentrasi partikulat yang berbahaya bagi kesehatan. Kemenkes menggunakan particulate counter yang mampu mendeteksi PM2,5, partikel berukuran sangat kecil yang tidak terlihat mata namun bisa masuk jauh ke dalam paru-paru.
Menurut Dante, partikel berukuran lebih besar memang sudah mulai berkurang, tetapi PM2,5 masih terdeteksi dalam konsentrasi tinggi di sejumlah lokasi. Pemantauan dilakukan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan dan Balai Kekarantinaan Kesehatan menggunakan Air Quality Detector. Hasilnya menunjukkan kawasan Bandara Soetta dan sekitarnya masih mencatat kadar PM2,5 maupun PM10 di atas ambang aman.
Dampak kesehatan dari sebaran abu vulkanik sudah terasa nyata. Hingga 6 September 2026, Kemenkes mencatat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut secara kumulatif di wilayah terdampak, yang tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota. Dari total itu, 3.771 kasus menimpa anak-anak usia 0–5 tahun, sementara 12.988 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun. Yang lebih mengkhawatirkan, angka kejadian ISPA pada 2026 ini tercatat lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kemenkes mengingatkan bahwa abu vulkanik mengandung partikulat berbagai ukuran, dan PM2,5 menjadi yang paling berbahaya karena kemampuannya menembus saluran pernapasan bagian dalam. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan menghadapi risiko lebih besar. Wamenkes Dante mengimbau masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan untuk konsisten menggunakan masker, terutama di daerah dengan konsentrasi partikulat masih tinggi, dan tetap waspada terhadap gejala gangguan pernapasan. Pemantauan kualitas udara akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari respons perlindungan kesehatan masyarakat.
Tag: Anak Krakatau, kualitas udara, ISPA, PM2,5, Kemenkes