Perizinan Proyek Alumina Rusal di Kalimantan Hampir Rampung, Mitra Lokal Belum Diumumkan
2026-09-12 06:09 WIB · aindari · 👁 907 dibaca

Raksasa aluminium Rusia itu akan mengolah bauksit menjadi alumina di Kalimantan dengan menggandeng pengusaha dalam negeri, sementara studi kelayakan masih diselesaikan.
Proses perizinan investasi perusahaan aluminium Rusia, Rusal, untuk membangun fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan sudah mendekati tahap akhir. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan hal itu di Jakarta, Jumat, seraya menegaskan pemerintah turut berkolaborasi dalam pengembangan proyek tersebut.
Menurut Bahlil, Rusal akan bermitra dengan pelaku usaha domestik dalam menjalankan proyek ini, meski ia belum mengungkap siapa mitra lokal yang dimaksud. Nilai investasi proyek pun belum dapat disampaikan karena studi kelayakan masih perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum angka resmi bisa dipublikasikan.
Rencana masuknya Rusal ke Indonesia sebenarnya sudah disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026. Saat itu Prabowo menyebut Indonesia akan bekerja sama dengan Rusal di bidang pengolahan pertambangan, dengan perusahaan tersebut berencana masuk dalam skala besar untuk mengembangkan fasilitas pengolahan bersama kelompok usaha Indonesia.
Langkah Rusal ini sejalan dengan agenda hilirisasi mineral yang tengah digencarkan pemerintah. Kementerian ESDM mencatat 18 proyek hilirisasi ditetapkan sebagai prioritas nasional pada 2026 dengan total nilai investasi sekitar Rp618 triliun, mencakup komoditas strategis seperti bauksit dan nikel. Indonesia saat ini sudah mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, berkapasitas satu juta ton alumina per tahun — fasilitas yang alumina-nya dipakai sebagai bahan baku produksi aluminium. Pada April 2026, pemerintah kembali memasukkan pengembangan smelter alumina dan bauksit di Mempawah dalam daftar proyek strategis hilirisasi.
Dari sisi realisasi, investasi hilirisasi bauksit menunjukkan lonjakan signifikan. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 mencapai Rp40,1 triliun, melonjak 193 persen dibanding kuartal sebelumnya sebesar Rp13,7 triliun. Angka itu menempatkan bauksit sebagai komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar pada periode tersebut, melampaui nikel yang mencapai Rp29,4 triliun dan tembaga sebesar Rp16,7 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 tercatat Rp152,7 triliun atau sekitar 29,8 persen dari total investasi nasional Rp511,8 triliun. Sepanjang semester I 2026, akumulasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun, setara 29,7 persen dari total investasi nasional sebesar Rp1.010 triliun, dengan bauksit menjadi salah satu komoditas utama penopangnya.
Tag: Rusal, hilirisasi bauksit, alumina, investasi Kalimantan, ESDM