Di Forum BRICS, Prabowo Umumkan Indonesia Kini Jadi Eksportir Pangan
2026-09-13 17:08 WIB · aindari · 👁 796 dibaca

Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia telah bertransformasi dari importir terbesar biji-bijian menjadi eksportir, dan menawarkan industrialisasi bersama kepada negara-negara BRICS.
Presiden Prabowo Subianto tampil di panggung KTT BRICS 2026 yang digelar di Bharat Mandapam, New Delhi, India, dengan membawa kabar perubahan besar: Indonesia, yang selama bertahun-tahun tercatat sebagai importir terbesar beras, jagung, dan biji-bijian, kini telah beralih posisi menjadi eksportir komoditas tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo langsung di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS, sebagaimana dikonfirmasi oleh keterangan resmi Sekretariat Presiden yang diterima di Jakarta, Minggu. Prabowo menegaskan bahwa dengan kapasitas produksi pangan nasional yang terus menguat, Indonesia siap memperbesar kontribusinya bagi ketahanan pangan global.
Menurut Prabowo, perubahan status dari importir menjadi eksportir bukan sekadar pencapaian ekonomi, melainkan bukti bahwa keterbatasan dapat dibalik menjadi kapasitas nyata melalui pembangunan yang konsisten dan penguatan kemampuan dalam negeri. Ia meyakini negara-negara BRICS lain menyimpan potensi serupa, asalkan kekuatan masing-masing anggota dapat dihubungkan dan dioptimalkan secara kolektif.
Dalam pidatonya, Prabowo mendorong perubahan cara pandang terhadap tantangan global. Berbagai persoalan yang saling berkaitan, menurutnya, seharusnya tidak semata-mata dilihat sebagai hambatan, melainkan sebagai pintu masuk menuju investasi yang lebih besar, industri yang lebih kuat, serta penciptaan lapangan kerja yang lebih luas bagi rakyat di negara-negara anggota. Pertumbuhan yang menjangkau jutaan warga, tegasnya, akan membuat setiap bangsa lebih tangguh menghadapi guncangan global.
Prabowo juga menyoroti posisi strategis BRICS sebagai jaringan rantai pasokan yang sudah terbentuk secara alami. Negara-negara anggota dinilai memiliki sumber daya, kapasitas produksi, dan kekuatan ekonomi yang saling melengkapi. Tugas bersama, katanya, adalah menghubungkan dan mengoptimalkan kekuatan itu agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi semua pihak.
Sebagai langkah konkret, Prabowo menawarkan gagasan industrialisasi bersama — sebuah skema kolaborasi untuk mengolah sumber daya dan kapasitas yang dimiliki negara-negara BRICS secara bersama-sama. Tawaran itu disampaikan sebagai respons atas kebutuhan forum untuk bergerak melampaui diskusi dan menghasilkan aksi nyata.
Pembangunan inklusif dan inovasi disebut Prabowo sebagai dua elemen kunci dalam memperkuat kapasitas bersama, sekaligus menjadi tolok ukur seberapa jauh pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya segelintir pihak.
Tag: BRICS, Prabowo Subianto, ketahanan pangan, Indonesia, New Delhi