Koalisi Anti-Dolar Menguat: Sejumlah Negara Kompak Cari Alternatif di Luar Sistem Keuangan AS
2026-09-14 06:04 WIB · aindari

Di tengah tekanan kebijakan ekonomi Amerika Serikat, negara-negara anggota BRICS dan mitra regionalnya mempercepat langkah untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dalam transaksi internasional.
Sejumlah negara yang tergabung dalam blok BRICS semakin serius mendorong penggunaan mata uang lokal sebagai respons terhadap ketidakpastian kebijakan global yang sebagian besar bersumber dari dinamika ekonomi Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kolektif bahwa ketergantungan pada dolar AS mulai dipertanyakan secara serius di tingkat antarnegara.
Indonesia menjadi salah satu negara yang aktif mendorong agenda ini. Dalam forum BRICS, Indonesia mendukung perluasan penggunaan mata uang lokal antarnegara sebagai instrumen untuk menghadapi gejolak ekonomi global. Posisi ini mencerminkan kekhawatiran bersama anggota blok tersebut terhadap dominasi dolar yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan internasional.
Bank Indonesia (BI) turut mengambil langkah konkret dengan menjajaki perluasan transaksi bilateral bersama bank sentral India. Kedua institusi mendiskusikan kemungkinan transaksi menggunakan rupiah dan rupee, sekaligus mempercepat integrasi sistem pembayaran berbasis kode QR antarnegara. Skema ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk membangun infrastruktur keuangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada sistem berbasis dolar.
Pengembangan QRIS lintas batas antara Indonesia dan India disebut sebagai salah satu prioritas yang tengah dipercepat. Jika terealisasi, mekanisme ini memungkinkan transaksi langsung antara kedua negara tanpa harus melalui konversi ke dolar AS terlebih dahulu — sebuah efisiensi sekaligus pernyataan geopolitik yang tidak kecil maknanya.
Di sisi lain, Iran menambah dimensi berbeda dalam lanskap geopolitik global. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa jika Iran memang berniat memiliki senjata nuklir, negara itu tidak akan bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Pernyataan ini muncul di tengah tekanan internasional yang terus meningkat terhadap program nuklir Teheran, dan menambah kompleksitas hubungan Iran dengan Barat, termasuk Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, rangkaian perkembangan ini menggambarkan tren yang semakin nyata: sejumlah negara, baik secara ekonomi maupun diplomatik, tengah membangun posisi yang lebih independen dari pengaruh Washington. Meski belum dapat dipastikan seberapa jauh langkah-langkah ini akan menggeser tatanan keuangan global, sentimen de-dolarisasi yang menguat berpotensi memengaruhi dinamika nilai tukar dan kepercayaan pasar terhadap dominasi dolar dalam jangka menengah.
Tag: BRICS, de-dolarisasi, Bank Indonesia, geopolitik, Iran