Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

The Fed Naikkan Suku Bunga Pertama Kali Sejak 2023, Inflasi Perang Jadi Pemicu

2026-09-17 10:01 WIB · aindari · 👁 516 dibaca

Bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75–4 persen, mengakhiri jeda panjang di tengah tekanan inflasi akibat konflik AS-Iran.

Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengambil langkah pengetatan moneter pertamanya sejak Juli 2023 dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase pada Rabu (16/9). Keputusan itu membawa kisaran target suku bunga dana federal funds ke level 3,75 hingga 4 persen, naik dari posisi sebelumnya di 3,50–3,75 persen yang telah dipertahankan sejak Desember tahun lalu.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyetujui kenaikan ini secara bulat. Dari 18 pejabat yang menyerahkan proyeksi terbaru, 12 di antaranya mengisyaratkan masih ada satu kenaikan lagi sebesar seperempat poin pada tahun ini. Empat pejabat lain bahkan memperkirakan dua kali kenaikan tambahan, sementara dua sisanya memproyeksikan suku bunga akan bertahan di level baru ini hingga akhir tahun. FOMC masih memiliki dua jadwal pertemuan tersisa, yakni pada Oktober dan Desember.

Salah satu faktor utama yang mendorong keputusan ini adalah lonjakan inflasi yang dipicu oleh perang antara AS dan Iran — konflik yang diinisiasi Presiden Donald Trump bersama Israel sejak akhir Februari lalu. Perang tersebut mendongkrak harga energi dan berbagai barang konsumsi. Dalam pernyataan resminya, FOMC menyebut inflasi masih tinggi meski aktivitas ekonomi tumbuh solid dan pengeluaran domestik tetap tangguh di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa prioritas bank sentral saat ini adalah stabilitas harga, bukan mendorong lapangan kerja maksimum. Warsh menyatakan data inflasi sepanjang musim panas tidak menunjukkan perbaikan tren yang signifikan, dan inflasi yang sudah berlangsung terlalu lama menjadi alasan utama kebijakan ini diambil. Ini merupakan pertemuan ketiga yang dipimpin Warsh sejak ia menggantikan Jerome Powell pada Mei lalu.

Kebijakan ini berpotensi memperuncingketegangan antara The Fed dan Trump. Presiden AS itu secara konsisten mendesak penurunan suku bunga untuk merangsang belanja dan pertumbuhan ekonomi — tekanan yang sebelumnya juga berulang kali diarahkan kepada Powell. Kenaikan suku bunga justru berdampak sebaliknya: biaya pinjaman konsumen meningkat, membuat cicilan hipotek, kredit kendaraan, dan tagihan kartu kredit semakin mahal.

Bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia, keputusan The Fed ini membawa sentimen tersendiri. Penguatan arah kebijakan hawkish dari bank sentral terbesar dunia berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk tekanan terhadap rupiah, meski dampak pastinya bergantung pada berbagai faktor domestik dan global yang terus berkembang.

Tag: The Fed, suku bunga, inflasi, kebijakan moneter, ekonomi AS