Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Hiburan

Rajata Hakim Pertanyakan Batas Melihat dan Memahami dalam Pameran Tunggal Perdananya

2026-09-18 17:00 WIB · aindari · 👁 579 dibaca

Seniman muda Indonesia itu menampilkan 63 potret orang asing berbahan cat akrilik di atas kertas kalkir, dilengkapi rekaman suara partisipan yang mendefinisikan diri mereka sendiri.

Seniman multidisipliner muda Indonesia Rajata Hakim menggelar pameran seni tunggal perdananya bertajuk "Terlihat / Terasa" di ArtSphere Gallery, lantai 2 Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan. Pameran ini terbuka untuk umum hingga 27 September 2026 dan dikuratori oleh Melissa Sunjaya sebagai bagian dari program Project 1830.

Karya inti pameran ini adalah potret 150 orang asing yang dibuat menggunakan cat akrilik pada kertas kalkir berukuran A4. Dari jumlah tersebut, 63 potret ditampilkan di ArtSphere Gallery, sementara keseluruhan 150 potret sebelumnya telah dipamerkan dalam Project 1830 di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Rajata membangun pameran ini di atas satu pertanyaan mendasar: apakah mengamati seseorang benar-benar berarti memahaminya? Ia sengaja mempertahankan unsur ketidakpastian dalam setiap karya — tepian terbuka, guratan yang tidak disempurnakan — untuk menunjukkan bahwa perhatian yang saksama pun tidak otomatis melahirkan pemahaman. Menurutnya, keterbatasan itulah yang justru ia biarkan membentuk karya, bukan sesuatu yang perlu dihindari.

Eksplorasi itu diperluas melalui dimensi suara: sejumlah partisipan merekam deskripsi diri mereka secara anonim, lalu rekaman tersebut dipasangkan dengan potret visual mereka. Pertemuan antara gambaran yang ditangkap mata dan cara seseorang mendefinisikan dirinya sendiri itu membuka celah pertanyaan — apakah yang terlihat adalah sosok sebenarnya, atau sekadar interpretasi si pengamat.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah potret Pangeran Diponegoro yang sengaja disamarkan wajahnya. Rajata ingin menguji apa yang terjadi ketika identitas yang selama ini dianggap sudah pasti justru dibuat tidak sepenuhnya terlihat, dan membiarkan publik menebak sendiri sosok yang menunggang kuda putih dalam lukisan tersebut.

Kurator Melissa Sunjaya menjelaskan bahwa pendekatan Rajata berkaitan erat dengan ketertarikannya pada arsip dan memori. Karya-karya ini tidak berusaha menyajikan masa lalu atau seseorang sebagai sesuatu yang sudah tuntas dipahami, melainkan membuka pertanyaan tentang bagaimana manusia membangun pengetahuan, mengarsipkan pengalaman, dan pada akhirnya membentuk memori kolektif.

Dalam praktik berkeseniannya, Rajata menggunakan beragam medium — kanvas, kayu, tas, material transparan, hingga instalasi. Putra presenter Sarah Sechan ini menyatakan bahwa ia tidak berkarya untuk menuntaskan suatu pengalaman, melainkan untuk tinggal cukup lama bersamanya hingga kompleksitasnya dapat dikenali, sekaligus menyisakan ruang bagi penonton untuk menemukan sesuatu dari diri mereka sendiri di dalam karya.

Tag: Rajata Hakim, pameran seni, seni kontemporer, ArtSphere Gallery, Project 1830