Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Hiburan

Calon Arang Versi EKI Dance Company: Penyihir Cantik yang Menanggung Stigma Janda

2026-09-18 17:08 WIB · aindari · 👁 552 dibaca

EKI Dance Company menghadirkan wajah baru Calon Arang — bukan sosok jahat, melainkan perempuan yang terluka oleh penghakiman sosial.

Drama musikal Calon Arang garapan EKI Dance Company dan Indonesia Kaya resmi membuka pentas perdananya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Kamis malam, 17 September 2026. Pertunjukan ini menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-30 EKI Dance Company dan akan berlangsung hingga 20 September 2026, dengan Ara Ajisiwi duduk di kursi sutradara sekaligus memerankan tokoh utama.

Yang membedakan produksi ini dari pementasan Calon Arang pada umumnya adalah penolakan terhadap pembagian karakter secara hitam-putih. Sosok yang dalam legenda Jawa dan Bali kerap digambarkan sebagai penyihir tua dan menakutkan, di sini tampil sebagai perempuan cantik berambut ikal panjang dengan riasan teatrikal yang justru mempertegas pesonanya. Ia bernama asli Dayu Datu, dikenal sebagai Nyi Rangda, seorang janda dari Desa Girah yang memimpin padepokan berisi para sisya — sebutan untuk murid-muridnya.

Pendekatan humanis ini menjadi inti penceritaan. Calon Arang tidak semata-mata digambarkan sebagai ancaman, melainkan sebagai ibu yang cemas akan nasib putrinya, Ratna Manggali, yang diperankan oleh Nala Amrytha. Nama Ratna Manggali, menurut penggambaran dalam pertunjukan, berarti permata pembawa keberuntungan — sebuah harapan besar yang disematkan sang ibu. Namun harapan itu terancam oleh sikap warga desa yang mengucilkan keluarga mereka semata karena status Calon Arang sebagai janda.

Salah satu momen yang dirancang untuk membangun kedekatan dengan penonton adalah saat Calon Arang memperkenalkan diri sambil mengajak hadirin mengucapkan mantra bersama. Penonton diminta menyahut bagian tertentu: ketika ia menyebut "yang di siang", penonton menjawab "yang di malam", lalu "balaskan semua" disambut "dendam". Elemen interaktif ini menjadi salah satu cara produksi menarik penonton masuk ke dalam dunia cerita.

Meski secara keseluruhan pertunjukan berhasil membangun nuansa yang segar terhadap kisah klasik ini, pementasan perdana menyimpan catatan. Bagian akhir cerita dinilai diselesaikan terlalu tergesa-gesa, sehingga penonton awam kesulitan memahami apa yang sesungguhnya terjadi saat Dewi Durga menampakkan wujudnya. Momen yang seharusnya menjadi puncak dramatis justru terasa kurang memberi ruang bagi penonton untuk mencerna maknanya.

Terlepas dari kekurangan di bagian penutup, produksi ini menawarkan perspektif yang relevan: bahwa stigma sosial terhadap perempuan — dalam hal ini status janda — bisa menjadi akar dari luka yang jauh lebih dalam dari sekadar dendam. Sebuah tafsir yang membuat legenda lama terasa dekat dengan persoalan yang masih hidup hingga hari ini.

Tag: EKI Dance Company, Calon Arang, Drama Musikal, Taman Ismail Marzuki, Seni Pertunjukan