Dari Rumah ke Reaktor: Warga Jakarta Timur Buktikan Pemilahan Sampah dan Teknologi Besar Bisa Bersinergi
2026-09-20 06:03 WIB · aindari · 👁 762 dibaca

Pengalaman 41 keluarga di Duren Sawit menunjukkan pengelolaan sampah berbasis komunitas dan proyek Waste to Energy skala nasional saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Memilah sampah dari dapur mungkin terasa seperti urusan kecil, tapi bagi warga RT 08/RW 04, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, kebiasaan itu sudah menjadi fondasi pengelolaan lingkungan sehari-hari. Sebanyak 41 rumah tangga di lingkungan tersebut secara mandiri mengolah sampah mereka melalui kombinasi biopori, komposter, budi daya maggot, dan bank sampah — sebuah ekosistem kecil yang membuktikan bahwa solusi sampah tidak selalu harus menunggu proyek besar.
Ketua RT setempat, Taufiq Supriadi Yusuf, menyebut sampah organik sebagai sumber daya yang kerap diabaikan. Menurutnya, material organik punya potensi besar untuk dimanfaatkan kembali, sementara sampah non-organik yang tidak tertangani di tingkat komunitas bisa dialihkan ke fasilitas pengolahan berskala besar seperti program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau yang dikenal sebagai Waste to Energy (WtE).
Namun Taufiq juga mengakui keterbatasan nyata dari pendekatan berbasis warga: lahan dan kapasitas pengolahan. Itulah mengapa ia justru mendukung kehadiran proyek WtE, bukan sebagai pengganti inisiatif komunitas, melainkan sebagai lapisan solusi berikutnya. Ia menegaskan bahwa teknologi pengolahan skala besar tidak boleh menjadi alasan warga berhenti memilah sampah dari sumbernya. Harapannya, setiap keluarga ikut bergerak agar beban pengelolaan sampah tidak sepenuhnya ditanggung negara.
Di level nasional, pembangunan infrastruktur WtE terus bergerak. Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management dan PT Daya Energi Bersih Nusantara meresmikan pembangunan fasilitas PSEL Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, pada pertengahan September lalu. Fasilitas ini menjadi yang ketiga memasuki tahap konstruksi setelah PSEL Denpasar Raya dan PSEL Kota Bekasi, dan dirancang untuk melayani kawasan aglomerasi Kabupaten serta Kota Bogor.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan proyek ini merupakan bagian dari komitmen mempercepat solusi pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan, sesuai mandat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. PSEL Bogor Raya 1 ditargetkan mampu memproses lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, menekan emisi dari tempat pemrosesan akhir hingga 80 persen, sekaligus memangkas emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 setiap tahunnya.
Gabungan antara kesadaran warga di tingkat RT dan investasi infrastruktur skala nasional mencerminkan pendekatan berlapis yang dinilai perlu dalam mengatasi krisis sampah Indonesia. Tanpa pemilahan di hulu, fasilitas WtE pun akan menerima campuran sampah yang kurang optimal. Sebaliknya, tanpa teknologi pengolahan berskala besar, timbunan sampah yang melampaui kapasitas komunitas akan terus menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Tag: pengelolaan sampah, Waste to Energy, PSEL, Danantara, gaya hidup hijau