Bobibos, Bahan Bakar Nabati dari Jerami yang Dikembangkan di Bogor
2026-07-18 06:13 WIB · aindari

PT Inti Sinergi Formula memperkenalkan Bobibos, bahan bakar alternatif berbasis limbah jerami yang diklaim memiliki performa tinggi dan emisi rendah.
Bahan bakar alternatif bernama Bobibos diperkenalkan sebagai inovasi energi terbarukan berbasis limbah pertanian. Produk yang dikembangkan PT Inti Sinergi Formula ini diluncurkan pada Minggu (2/11) di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Nama Bobibos merupakan akronim dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos.
Bobibos masuk kategori Bahan Bakar Nabati atau BBN. Inovasi ini dikembangkan oleh M. Ikhlas Thamrin bersama tim risetnya setelah lebih dari satu dekade melakukan penelitian mandiri. Bahan utama yang digunakan adalah jerami, limbah pertanian yang selama ini kerap dibakar setelah masa panen. Pemilihan jerami didasarkan pada ketersediaannya yang besar di Indonesia dan potensi efisiensi dalam proses produksi.
Berdasarkan informasi dari akun Instagram resminya, jerami diproses melalui teknologi bioenergi dan diberi serum khusus hingga menjadi bahan bakar. Bobibos diklaim memiliki performa setara Research Octane Number atau RON 98, dengan angka oktan disebut mencapai 98,1. Pengembang juga menyebut teknologi pengolahannya dapat menekan emisi gas buang hingga mendekati nol dibandingkan bahan bakar fosil.
Bobibos dibuat dalam dua jenis, yakni bensin dan solar. Keduanya disebut dapat digunakan pada beragam kendaraan dan mesin, mulai dari sepeda motor, mobil, traktor, kapal nelayan, hingga mesin industri rakyat. Dari sisi penggunaan, hasil uji lapangan diklaim menunjukkan mesin bekerja lebih ringan, konsumsi bahan bakar lebih hemat, dan performa tetap stabil. Untuk varian solar, kendaraan disebut dapat menempuh jarak lebih jauh dibandingkan solar biasa.
Pengembangan bahan bakar ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Dengan bahan baku dari limbah pertanian, biaya produksi ditargetkan dapat ditekan sehingga harga jual Bobibos diharapkan lebih kompetitif daripada bahan bakar konvensional, termasuk bahan bakar RON 98 berbasis fosil. Model produksinya juga disebut dapat dikembangkan secara tersebar di berbagai daerah guna menekan biaya distribusi.
Selain aspek energi, Bobibos diposisikan sebagai peluang ekonomi bagi petani. Limbah jerami yang sebelumnya bernilai rendah dapat diolah menjadi produk bernilai jual. Proses produksinya juga disebut menghasilkan produk turunan seperti pakan ternak dan pupuk organik. Setiap hektare sawah diklaim dapat menghasilkan hingga 3.000 liter bahan bakar, sehingga petani berpotensi terlibat tidak hanya dalam produksi pangan, tetapi juga pasokan energi, pakan, dan pupuk.
Uji coba Bobibos turut dilakukan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggunakan mesin traktor diesel di Lembur Pakuan. Hasilnya disebut menunjukkan tarikan mesin lebih ringan dan asap buangan lebih bersih. Dukungan juga datang dari pelaku industri, termasuk pemilik PT Primajasa, H. Amir Mahpud, yang menyatakan kesiapan bekerja sama memakai Bobibos untuk armada bus di Jabodetabek dan Jawa Barat. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal perluasan pemanfaatan Bobibos secara nasional.
Tag: Bobibos, bahan bakar nabati, energi terbarukan, jerami, teknologi energi