DeepSeek Kantongi Komitmen Dana US$15 Miliar di Tengah Pembatasan Amerika Serikat
2026-10-23 13:30 WIB · aindari · 👁 476 dibaca
Pendanaan baru berpotensi memperkuat ekspansi infrastruktur dan model AI DeepSeek meski penggunaannya dibatasi pada lembaga sipil federal Amerika Serikat.
DeepSeek, perusahaan kecerdasan artifisial asal China, dilaporkan memperoleh pendanaan senilai US$15 miliar atau sekitar Rp271 triliun. Dana tersebut berasal dari calon investor, termasuk produsen baterai CATL dan perusahaan teknologi Tencent. Pendanaan ini muncul ketika DeepSeek menghadapi pembatasan di Amerika Serikat karena kekhawatiran terhadap keamanan sistemnya.
Pembatasan itu berlaku khususnya untuk penggunaan DeepSeek di lembaga-lembaga sipil federal AS. Pemerintah AS juga telah memblokir akses DeepSeek dari jaringan sipil federal. Langkah tersebut menjadi bagian dari sorotan keamanan yang mengiringi perkembangan perusahaan AI China di pasar global.
Putaran terbaru mengikuti investasi yang dihimpun DeepSeek pada Juni 2026. Saat itu, perusahaan mengumpulkan lebih dari US$7 miliar, setara sekitar Rp125 triliun, dengan valuasi US$50 miliar atau sekitar Rp862 triliun. Pada Juli 2026, DeepSeek disebut masih mencari tambahan dana US$1,5 miliar, sekitar Rp27 triliun, dengan target valuasi sekitar US$71 miliar atau Rp1,2 kuadriliun. Perusahaan juga menyiapkan kemungkinan penawaran umum perdana di China paling cepat tahun depan.
Berbasis di Hangzhou, DeepSeek meningkatkan belanja untuk infrastruktur AI serta pengembangan model terbuka yang ditujukan bagi pasar domestik dan internasional. Ekspansi tersebut berpotensi memperketat persaingan antarperusahaan AI. Dari sisi sentimen, aliran dana besar dapat memperkuat posisi perusahaan dalam perlombaan teknologi AI, meski pembatasan akses di AS tetap menjadi risiko bagi jangkauan globalnya.
DeepSeek mencuri perhatian dunia pada 2025 melalui model penalaran RI (Responsive Intelligence) yang berbobot terbuka dan tersedia gratis. Model itu menantang dominasi perusahaan AI asal AS. Perusahaan berdiri pada 2023 oleh Liang Wenfeng, yang sebelumnya ikut mendirikan High-Flyer, perusahaan hedge fund di China. Berdasarkan data kepemilikan yang dianalisis WireScreen, Liang masih menguasai sekitar 81,6 persen saham entitas operasional DeepSeek di China setelah putaran pendanaan sebelumnya.
Pendanaan DeepSeek berlangsung di tengah arus investasi besar menuju perusahaan AI China dan global. Kimi, pengembang AI milik Moonshot AI, mengamankan US$2 miliar atau sekitar Rp34,5 triliun pada Mei 2026 dengan valuasi US$20 miliar, setara sekitar Rp356,34 triliun. Manus AI mengumpulkan lebih dari US$500 juta, sekitar Rp9 triliun, pada awal bulan yang sama. Zhipu AI atau Z.ai dan MiniMax, yang melantai di Bursa Hong Kong pada Januari, memiliki kapitalisasi pasar masing-masing sekitar US$29 miliar atau Rp524 triliun dan US$7,2 miliar atau Rp130 triliun.
Tag: DeepSeek, AI China, pendanaan teknologi, pembatasan Amerika Serikat, IPO