KJRI Melbourne Perluas Jejaring Bisnis Digital Indonesia dan Australia
2026-10-26 06:03 WIB · aindari · 👁 425 dibaca
KJRI Melbourne mempertemukan pelaku usaha kedua negara melalui business matching dan forum yang membahas keamanan siber, tata kelola data, serta peluang ekonomi digital.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne membuka ruang baru bagi pelaku usaha Indonesia dan Australia melalui rangkaian business matching serta business forum. Kedua agenda tersebut menjadi bagian dari Festival Indonesia 2026, dengan tujuan mempertemukan perusahaan Indonesia dan calon mitra bisnis di Australia.
Business matching telah berlangsung pada Kamis, 22 Oktober. Kegiatan ini mempertemukan pelaku usaha dari kedua negara dalam penjajakan kerja sama. KJRI Melbourne kemudian menjadwalkan business forum pada Selasa, 27 Oktober, di RMIT University, Melbourne.
Forum itu mengangkat tema “Navigating Cybersecurity and Digital Trust in the AI-Driven Indonesia–Australia Digital Economy”. Pembahasan berfokus pada tantangan dan peluang dalam ekonomi digital yang berkembang seiring penggunaan kecerdasan buatan. Perwakilan pemerintah, industri, serta akademisi dari Indonesia dan Australia dijadwalkan terlibat dalam diskusi.
Sejumlah topik utama mencakup tata kelola data lintas batas, aturan dan akses pasar, identitas digital, serta keamanan siber. Isu tersebut berkaitan dengan kebutuhan membangun kepercayaan dalam perdagangan digital dan hubungan bisnis lintas negara. Forum diharapkan menjadi tempat bertukar pandangan mengenai perkembangan regulasi dan kesiapan industri kedua negara.
Perusahaan teknologi identitas digital asal Indonesia, Privy ID, turut hadir dalam agenda tersebut. Dari Australia, forum menghadirkan perusahaan keamanan siber yang telah menjangkau pasar global, yakni CyberCert, Palo Alto Networks, DHI-AI, dan Guardware.
Konsul Jenderal RI di Melbourne Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo menyatakan, hubungan Indonesia dan Australia tidak hanya bertumpu pada kedekatan geografis. Menurut dia, hubungan antarmasyarakat yang terus berkembang turut membuka peluang kerja sama baru, termasuk melalui pertemuan bisnis dan pembahasan ekonomi digital.
Peluang kerja sama itu muncul ketika hubungan perdagangan kedua negara mencatat pertumbuhan. Dalam peluncuran Australia–Indonesia Partnership for Economic Development (PROSPERA) di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyampaikan bahwa perdagangan bilateral meningkat hampir tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir menjadi 33 miliar dolar Australia, setara sekitar Rp415,50 triliun. Pertumbuhan tersebut berlangsung setelah penerapan Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Investasi antara kedua negara juga tumbuh 8,4 persen dalam periode yang sama.
Tag: Indonesia-Australia, ekonomi digital, keamanan siber, perdagangan bilateral, Festival Indonesia 2026