Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Kesiapan Mental Pemuda Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045

2026-10-29 17:09 WIB · aindari · 👁 873 dibaca

Psikolog Hanna Monareh menilai generasi muda perlu mengembangkan kemampuan mengelola emosi, menghadapi tekanan, dan mencari bantuan profesional.

Pemuda Indonesia dinilai membutuhkan ketangguhan mental untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Psikolog Klinis RSUP Prof Dr R D Kandou Manado, Hanna Monareh, mengatakan keberhasilan generasi muda tidak cukup ditentukan oleh kemampuan akademis, tetapi juga oleh kematangan emosional dan daya tahan menghadapi tekanan.

Hanna menyampaikan pandangan itu di Manado dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda. Menurut dia, peringatan tersebut dapat menjadi pengingat agar semangat kepemudaan diterjemahkan ke dalam upaya memperkuat kesehatan mental generasi penerus.

Tantangan psikologis yang dihadapi pemuda saat ini berkaitan dengan perubahan lingkungan sosial dan perkembangan teknologi digital. Paparan media sosial yang tinggi dapat mendorong perbandingan diri dengan orang lain. Kondisi itu berpotensi memicu kecemasan, kelelahan mental atau burnout, serta imposter syndrome, yakni perasaan tidak layak atau tidak cukup mampu meskipun seseorang telah meraih prestasi.

Kesadaran pemuda terhadap isu kesehatan mental disebut sudah meningkat. Namun, Hanna menilai kesadaran tersebut perlu diikuti kemampuan praktis untuk mengatur emosi dan memulihkan diri setelah menghadapi masalah. Pemuda juga perlu menghindari self-diagnosis, karena pemahaman mengenai kondisi psikologis tidak cukup hanya berdasarkan informasi yang ditemui sendiri.

Ketidakpastian mengenai karier dan masa depan turut menjadi tantangan. Perubahan dunia kerja yang cepat menuntut anak muda memiliki kemampuan berpikir fleksibel serta kontrol terhadap impuls. Kedua kemampuan itu penting agar mereka dapat merespons perubahan tanpa mudah terjebak dalam keputusasaan.

Dari perspektif psikologi klinis, kesehatan mental menjadi dasar bagi perkembangan potensi dan inovasi pemuda. Kemampuan menghadapi stres serta krisis pada masa transisi menuju kedewasaan, yang dikenal sebagai quarter-life crisis, juga dinilai penting di tengah kehidupan digital yang bergerak cepat. Selain itu, resiliensi dan regulasi emosi membantu pemuda mengelola kecemasan, bangkit setelah kegagalan, dan menyesuaikan diri secara positif.

Hanna, yang juga memiliki Psychological Practice Hanna & Consultant serta menjadi Founder Komunitas Cegah Bunuh Diri, menegaskan bahwa mencari pertolongan profesional ketika diperlukan merupakan bentuk kekuatan. Ia berharap semangat Sumpah Pemuda mendorong sikap saling menguatkan secara mental, sehingga generasi penerus dapat tumbuh cerdas, berkarakter, dan matang secara emosional.

Tag: kesehatan mental, pemuda, Indonesia Emas 2045, resiliensi, psikologi