Tuberkulosis Tidak Pandang Status Sosial, Semua Orang Berisiko Tertular
2026-10-17 17:04 WIB · aindari · 👁 693 dibaca
Pakar paru dari Universitas Indonesia menegaskan bahwa TB kini bukan lagi penyakit eksklusif kalangan ekonomi lemah, melainkan ancaman bagi seluruh lapisan masyarakat.
Anggapan lama bahwa tuberkulosis hanya mengintai masyarakat miskin atau mereka yang bergizi buruk perlu segera ditinggalkan. Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K), guru besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menegaskan bahwa penyakit ini kini menjangkau semua kalangan tanpa memandang status ekonomi maupun tempat tinggal. Menurutnya, penduduk kawasan elite seperti Menteng atau Pondok Indah pun bisa terinfeksi TB.
Penularan terjadi karena bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar melalui udara. Ketika penderita TB batuk, sekitar 3.500 kuman dapat terlontar ke lingkungan sekitar. Jumlah itu melonjak drastis saat bersin, yakni berkisar 4.500 hingga satu juta bakteri. Kuman yang terhirup orang lain masuk ke saluran pernapasan, mencapai paru-paru, dan berpotensi menyebar ke organ tubuh lainnya.
Prof. Faisal menjelaskan bahwa interaksi sosial di ruang publik menjadi jalur penularan yang sulit dihindari. Pusat perbelanjaan, pasar, gedung perkantoran, hingga angkutan umum merupakan tempat-tempat di mana risiko terpapar bakteri TB cukup tinggi. Masalahnya, masyarakat umumnya tidak bisa mengenali apakah seseorang di sekitarnya tengah mengidap penyakit ini.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Kementerian Kesehatan, tubuh orang yang terpapar bakteri TB biasanya menunjukkan reaksi dalam rentang enam hingga 14 minggu setelah infeksi. Gejala utamanya berupa batuk berkepanjangan, baik berdahak maupun tidak. Penderita juga kerap mengalami demam dan meriang yang berlangsung lama, sesak napas, nyeri dada, penurunan nafsu makan dan berat badan, serta keringat berlebih di malam hari meskipun tidak beraktivitas.
Untuk menekan risiko penularan, Prof. Faisal menyarankan beberapa langkah pencegahan. Penggunaan masker menjadi penting ketika seseorang merasa tidak sehat atau berada di dekat orang yang menunjukkan gejala sakit. Selain itu, menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi seimbang, olahraga rutin, istirahat cukup, dan pengelolaan stres yang baik turut berperan dalam melindungi diri dari infeksi.
Meski demikian, pakar paru ini meminta masyarakat untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap ancaman TB. Langkah yang lebih tepat adalah melakukan investigasi kontak apabila ditemukan penderita tuberkulosis di lingkungan sekitar. Riwayat interaksi anggota keluarga dengan pasien TB perlu ditelusuri, dan mereka yang pernah berkontak erat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.
Tag: tuberkulosis, pencegahan TB, kesehatan paru, Mycobacterium tuberculosis, penyakit menular