Pabrik Soda Ash Gresik Ditargetkan Pangkas Impor dan Hemat Devisa
2026-11-01 17:08 WIB · aindari · 👁 547 dibaca
Fasilitas berkapasitas 300 ribu ton per tahun itu diproyeksikan memenuhi sekitar 29 persen kebutuhan soda ash Indonesia pada 2025.
PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkirakan fasilitas soda ash milik PT Petrokimia Gresik mampu menghasilkan 300 ribu ton per tahun. Kapasitas tersebut berpotensi menggantikan sekitar 29 persen volume impor soda ash Indonesia pada 2025 dan mengurangi kebutuhan devisa sekitar Rp1,4 triliun setiap tahun.
Indonesia masih sepenuhnya mengandalkan pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan soda ash pada 2025. Total kebutuhan diperkirakan mencapai 1,05 juta ton, dengan nilai impor sekitar 225 juta dolar AS. Kehadiran produksi domestik diharapkan memperkuat pasokan bahan baku industri sekaligus menekan ketergantungan pada impor.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyebut hilirisasi sebagai langkah untuk meningkatkan kemampuan industri nasional dalam menghasilkan bahan baku. Menurut dia, pengembangan produk turunan di dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan asing serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
Petrokimia Gresik bersama PT Rekayasa Industri telah menandatangani kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) untuk proyek soda ash dan amonium klorida. Selain soda ash, fasilitas tersebut dirancang memproduksi 300 ribu ton amonium klorida per tahun. Produk ini dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk NPK, sehingga proyek tersebut berpotensi memperkuat keterhubungan rantai pasok industri kimia dan ketersediaan bahan baku pupuk nasional.
Pembangunan proyek menjadi bagian dari rencana industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan serta revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun mendatang. Perseroan menyatakan proyek ini merupakan pengembangan soda ash kedua di lingkungan Pupuk Indonesia Group sekaligus bagian dari diversifikasi produk kimia bernilai tambah. Investasi dan inovasi tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan serta kemandirian industri nasional.
Dari sisi lingkungan, fasilitas ini dirancang memanfaatkan sekitar 174 ribu ton karbon dioksida per tahun yang berasal dari proses produksi pupuk. Petrokimia Gresik sebelumnya menguji teknologi carbon capture and utilization (CCU) melalui fasilitas pilot plant untuk mengolah CO2 industri menjadi soda ash. Pengujian itu mencatat tingkat penangkapan CO2 antara 91,48 persen dan 97,79 persen. Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya dekarbonisasi bertahap Pupuk Indonesia menuju target net zero emission pada 2060.
Tag: soda ash, Petrokimia Gresik, hilirisasi, impor, CCU