Saraswati Fellowship Luluskan 30 Perempuan Muda untuk Perkuat Kepemimpinan
2026-11-08 06:11 WIB · aindari · 👁 785 dibaca

Program ini membekali peserta dengan kemampuan mengenali kekuatan diri, memimpin organisasi, dan menghasilkan dampak sosial.
Saraswati Fellowship kembali meluluskan 30 perempuan muda setelah menjalani program beasiswa dan pengembangan kepemimpinan selama tiga bulan. Inisiatif tersebut dirancang untuk menyiapkan talenta perempuan agar mampu mengambil peran kepemimpinan serta memberi pengaruh positif di lingkungan masing-masing.
Inisiator Saraswati Fellowship, Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo, mengatakan lahirnya pemimpin perempuan membutuhkan kerja bersama. Menurut dia, peserta program memiliki latar belakang beragam, mulai dari kesehatan, kewirausahaan, hingga teknologi kecerdasan buatan. Keragaman keahlian itu dinilai dapat menjadi modal untuk ikut menjawab tantangan masa depan Indonesia.
Pembinaan peserta berlangsung melalui tiga fokus yang saling terhubung. Peserta mempelajari pemahaman atas kekuatan diri, kepemimpinan organisasi, serta cara membangun dampak nyata. Rangkaian pembekalan tersebut diberikan secara berkelanjutan agar lulusan tidak berhenti pada pengembangan kapasitas pribadi, tetapi dapat menerapkannya dalam kehidupan dan pekerjaan.
Program ini turut melibatkan sejumlah tokoh berpengaruh sebagai super mentor. Salah satunya Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI untuk periode 2014-2019 dan 2019-2024. Retno menyampaikan bahwa keterlibatannya merupakan bagian dari upaya mengurangi kesenjangan gender dalam posisi kepemimpinan, baik di Indonesia maupun di tingkat global.
Dalam acara kelulusan di Jakarta pada Sabtu malam, Retno membahas hambatan struktural yang masih membatasi perempuan. Ia merujuk laporan World Economic Forum 2026 bertajuk "Global Gender Gap", yang mencatat kesenjangan 77,9 persen dalam pemberdayaan politik. Perempuan yang telah memperoleh ruang di sektor tersebut baru mencapai 22,1 persen.
Data UN Women dan UN DESA pada 2026 juga memperkirakan kesetaraan gender di parlemen nasional masih memerlukan waktu sekitar 63 tahun. Retno menilai kondisi itu penting diperhatikan karena sektor politik memiliki pengaruh besar terhadap keputusan strategis. Ia mendorong peningkatan jumlah perempuan di ruang pengambilan keputusan agar kebijakan dan sistem dapat dipengaruhi secara lebih setara.
Retno, yang kini menjadi Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Bidang Air, juga mengingatkan lulusan agar meneruskan dukungan kepada perempuan lain ketika telah mencapai posisi penting. Keberlanjutan kepemimpinan perempuan, menurut dia, bergantung pada kesediaan para pemimpin perempuan membuka akses dan peluang bagi generasi berikutnya.
Tag: Saraswati Fellowship, pendidikan kepemimpinan, perempuan, kesetaraan gender, beasiswa