Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Badai Memperparah Krisis Pengungsian di Gaza, Puluhan Ribu Tenda Terendam

2026-11-08 15:30 WIB · aindari · 👁 758 dibaca

Hujan deras dan angin kencang merusak tempat penampungan warga Palestina ketika infrastruktur Gaza hanya berfungsi sebagian dan bantuan musim dingin masih terbatas.

Badai yang melanda Jalur Gaza sejak Jumat malam merendam sekitar 70.000 tenda pengungsi. Hujan dan angin kencang membuat ribuan keluarga kehilangan tempat berlindung, sementara banyak di antara mereka tidak memiliki lokasi lain untuk dituju. Air juga menggenangi perabotan, tempat tidur, serta barang-barang milik warga di sejumlah kamp pengungsian.

Kota Gaza mencatat curah hujan 60 milimeter dalam 12 jam. Jumlah itu setara sekitar 15 persen dari total curah hujan tahunan wilayah tersebut. Angin menerbangkan sebagian tenda dan merobek lainnya. Puluhan dinding bangunan turut roboh. Lima warga Palestina terluka setelah dua dinding yang sebelumnya rusak akibat serangan Israel runtuh, disusul lepasnya lembaran logam bergelombang.

Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian awal akibat badai mencapai sekitar 3 juta dolar AS. Pemerintah Kota Gaza menerima 250 laporan tentang jalan tergenang, erosi, dan saluran drainase tersumbat. Petugas menangani sebagian besar laporan menggunakan peralatan dan sumber daya yang terbatas. Sebanyak 270 kamp dan lokasi penampungan di kota itu masih berada dalam ancaman banjir.

Juru bicara Pemerintah Kota Gaza Hosni Muhanna mengatakan sekitar satu juta warga dan pengungsi kini berdesakan di wilayah yang luasnya kira-kira 30 persen dari Kota Gaza. Kerusakan akibat perang membuat kemampuan sistem drainase tersisa 20 persen. Situasi itu menjadikan kawasan permukiman dataran rendah sangat rentan saat hujan turun. Muhanna meminta seluruh pintu perlintasan dibuka sepenuhnya agar bantuan kemanusiaan, kebutuhan musim dingin, dan alat berat dapat masuk.

Badan Pertahanan Sipil Gaza menerima ratusan panggilan darurat sejak badai dimulai. Tim penyelamat memprioritaskan ancaman langsung terhadap keselamatan, termasuk bangunan dan dinding yang berisiko runtuh. Namun, mereka tidak memiliki kapasitas untuk menyediakan tempat tinggal pengganti bagi keluarga yang tendanya rusak. Ribuan orang akhirnya bertahan di ruang terbuka. Menurut badan tersebut, blokade Israel dan pembatasan masuknya rumah mobil serta material rekonstruksi mempersempit pilihan perlindungan yang lebih aman.

Kebutuhan itu mencakup sebagian besar penduduk Gaza. UNRWA menyatakan 1,98 juta orang, atau sekitar 94 persen populasi, membutuhkan tempat berlindung dan kebutuhan dasar lain berdasarkan survei Juni. Sebanyak 58 persen menghadapi kebutuhan perlindungan dalam tingkat kritis atau katastrofik. OCHA pada Oktober memperingatkan 950.000 warga tinggal di lokasi pengungsian dengan risiko banjir sedang hingga tinggi, termasuk lebih dari 400.000 orang di kawasan berisiko tinggi. Perang yang dimulai pada Oktober 2023 telah menghancurkan rumah dan infrastruktur. Lebih dari setahun setelah gencatan senjata Oktober 2025 berlaku, kebutuhan hunian serta rekonstruksi masih jauh melampaui bantuan yang tersedia.

Tag: Gaza, banjir, pengungsi Palestina, bantuan kemanusiaan, UNRWA