Kredit Baru Perbankan Melonjak pada Kuartal II 2026, Semua Segmen Tumbuh
2026-07-20 17:07 WIB · aindari · 👁 601 dibaca

Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit baru naik signifikan di triwulan kedua 2026 dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang mencapai 93,08 persen.
Penyaluran kredit baru oleh perbankan nasional mengalami lonjakan signifikan pada periode April-Juni 2026. Berdasarkan Survei Perbankan yang dirilis Bank Indonesia, nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk kredit baru mencapai 93,08 persen pada triwulan II 2026, melonjak tajam dari posisi 38,74 persen pada triwulan sebelumnya. Angka ini mengindikasikan ekspansi kredit yang jauh lebih kuat dibandingkan awal tahun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa kenaikan tersebut terjadi secara merata di seluruh kategori penggunaan kredit. Kredit modal kerja mencatatkan SBT tertinggi sebesar 94,34 persen, disusul kredit investasi di angka 93,51 persen, dan kredit konsumsi dengan SBT 83,67 persen. Ketiganya menunjukkan peningkatan dibandingkan kuartal pertama 2026.
Di segmen konsumsi, pertumbuhan didorong oleh beberapa produk utama. Kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR/KPA) memimpin dengan SBT 78,20 persen, diikuti kredit multiguna di 69,71 persen, kredit kendaraan bermotor sebesar 67,95 persen, serta kredit tanpa agunan yang mencatat SBT 49,70 persen. Namun tidak semua produk konsumsi tumbuh seragam — permintaan kartu kredit justru melambat dengan SBT hanya 30,18 persen, lebih rendah dari periode sebelumnya.
Meski kredit tumbuh pesat, perbankan ternyata menerapkan kehati-hatian lebih tinggi dalam menyalurkan pinjaman baru selama triwulan II 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang bernilai positif 1,03, menandakan standar penyaluran yang lebih ketat. Pengetatan dilakukan pada beberapa aspek, termasuk suku bunga, plafon, perjanjian kredit, jangka waktu, dan biaya persetujuan kredit.
Memasuki triwulan III 2026, survei memproyeksikan kredit baru tetap tumbuh meskipun dengan laju yang sedikit lebih moderat, tercermin dari perkiraan SBT sebesar 84,65 persen. Prioritas penyaluran diperkirakan tidak berubah, dengan kredit modal kerja tetap menjadi fokus utama, diikuti kredit investasi dan kredit konsumsi.
Menariknya, standar penyaluran kredit pada kuartal ketiga diperkirakan akan melonggar. ILS diprakirakan bergeser ke zona negatif di angka 2,25, yang berarti bank-bank cenderung mempermudah persyaratan pemberian kredit. Pelonggaran ini sejalan dengan ekspektasi responden survei bahwa total kredit outstanding akan terus bertumbuh hingga akhir 2026.
Optimisme tersebut ditopang oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang dinilai tetap positif serta tingkat risiko penyaluran kredit yang masih terkendali. Kombinasi pertumbuhan permintaan dan pelonggaran standar kredit berpotensi menjadi pendorong ekspansi pembiayaan perbankan di paruh kedua tahun ini.
Tag: kredit perbankan, Bank Indonesia, Survei Perbankan, SBT kredit, ekonomi Indonesia