Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Tujuh dari Sepuluh Penderita Diabetes di Indonesia Tidak Tahu Dirinya Sakit, Ancaman Kebutaan Mengintai

2026-07-21 17:03 WIB · aindari · 👁 894 dibaca

Mayoritas penderita diabetes di Indonesia belum terdiagnosis, membuat komplikasi serius seperti retinopati diabetik kian sulit dicegah.

Lebih dari tujuh puluh persen penderita diabetes di Indonesia belum mengetahui kondisi mereka — artinya, dari setiap sepuluh orang yang hidup dengan penyakit ini, tujuh di antaranya tidak terdiagnosis. Angka ini mencerminkan betapa besarnya gunung es krisis diabetes yang sesungguhnya tengah dihadapi negara ini, jauh melampaui data yang tercatat di fasilitas kesehatan.

Ketidaktahuan akan status diabetes bukan sekadar soal angka gula darah yang tidak terpantau. Tanpa diagnosis, seseorang tidak akan menjalani pengobatan maupun kontrol rutin, sehingga kerusakan organ berlangsung diam-diam dalam jangka panjang. Salah satu komplikasi yang paling mengancam adalah retinopati diabetik — kerusakan pembuluh darah di retina mata akibat kadar gula darah yang tidak terkendali.

Retinopati diabetik menjadi perhatian serius karena gejalanya kerap tidak disadari pada tahap awal. Penglihatan yang mulai kabur sering kali disalahartikan sebagai katarak atau gangguan mata biasa akibat usia, padahal bisa jadi merupakan tanda kerusakan retina yang sudah berlangsung. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berujung pada kebutaan permanen.

Merespons ancaman ini, Kementerian Kesehatan menyiapkan program skrining retina di tingkat puskesmas sebagai langkah pencegahan kebutaan pada pasien diabetes. Langkah ini dinilai strategis mengingat puskesmas merupakan titik layanan kesehatan primer yang paling mudah dijangkau masyarakat luas, termasuk di daerah yang jauh dari rumah sakit spesialis.

Pakar dari Universitas Indonesia menegaskan bahwa dua kunci utama mencegah komplikasi diabetes adalah kontrol glikemik yang ketat dan skrining berkala. Kontrol glikemik berarti menjaga kadar gula darah tetap dalam rentang normal melalui pola makan, aktivitas fisik, dan obat-obatan jika diperlukan. Sementara skrining rutin memungkinkan deteksi dini komplikasi sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan sulit ditangani.

Lonjakan kasus diabetes di Indonesia menjadikan isu ini semakin mendesak. Tanpa upaya deteksi dini yang masif dan merata, jutaan orang yang saat ini tidak terdiagnosis berisiko mengalami komplikasi serius — bukan hanya pada mata, tetapi juga pada ginjal, saraf, dan jantung — tanpa sempat mendapat penanganan yang memadai.

Tag: diabetes, retinopati diabetik, skrining kesehatan, komplikasi diabetes, Kemenkes