PLN Ungkap 125 Ton Hidrogen Terbuang Sia-sia Setiap Tahun, Dorong Bus TransJakarta Berbahan Bakar Hidrogen
2026-07-22 06:11 WIB · aindari · 👁 387 dibaca

Dari 200 ton hidrogen yang diproduksi pembangkit PLN, hanya 75 ton yang terpakai — surplus 125 ton kini didorong untuk menggerakkan transportasi publik ibu kota.
Indonesia ternyata memiliki kelebihan produksi hidrogen yang cukup besar namun belum termanfaatkan secara optimal. Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan hal ini dalam pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 di Jakarta, Selasa. Dari total 200 ton hidrogen yang dihasilkan seluruh pembangkit PLN setiap tahunnya, hanya 75 ton yang benar-benar digunakan, sehingga tersisa 125 ton dalam kondisi menganggur.
Hidrogen yang diproduksi pembangkit PLN sejatinya berfungsi sebagai bagian dari sistem pendingin unit pembangkit. Namun kapasitas kebutuhan pendinginan itu jauh di bawah volume produksi, sehingga lebih dari separuh hidrogen yang dihasilkan tidak terserap sama sekali.
Untuk menyiasati surplus tersebut, PLN telah membangun Hydrogen Refueling Station (HRS) atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen bekerja sama dengan Pertamina. Infrastruktur pengisian itu disebut sudah siap beroperasi. Namun Darmawan menunjuk satu hambatan utama: kendaraan berbahan bakar hidrogen yang akan mengisi di stasiun tersebut belum tersedia di pasar domestik.
Di forum yang sama, Darmawan secara langsung meminta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menjembatani komunikasi dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung guna menjajaki penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar armada bus TransJakarta. Ia menilai transportasi publik perkotaan merupakan segmen yang paling realistis untuk menyerap surplus hidrogen dalam jangka dekat.
Darmawan juga menyebutkan bahwa PLN telah menjalin diskusi dengan produsen kendaraan dari Jepang, Jerman, dan China mengenai ketersediaan bus berbahan bakar hidrogen. Apabila rencana ini terwujud, PLN dan Pertamina siap berkolaborasi dalam penyediaan armada bus tersebut, termasuk kemungkinan menampilkan logo ESDM, PLN, dan Pertamina pada kendaraan sebagai simbol kolaborasi lintas lembaga dalam membangun ekosistem transportasi hijau.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah yang lebih luas dalam mengembangkan ekosistem hidrogen nasional. Kementerian ESDM sebelumnya telah mengidentifikasi empat sektor prioritas pemanfaatan hidrogen, sementara Pertamina juga tengah memperkuat inisiatif serupa. Jika TransJakarta berhasil menjadi proyek percontohan, surplus hidrogen PLN yang selama ini terbuang berpotensi menjadi bahan bakar nyata bagi mobilitas warga ibu kota.
Tag: PLN, hidrogen, TransJakarta, energi hijau, Pertamina