Penderita Depresi Lebih Terdorong Mengunggah Konten demi Raih 'Likes', Studi Ungkap Paradoks Perilaku
2026-07-22 17:12 WIB · aindari · 👁 827 dibaca

Riset terbaru di JAMA Psychiatry menemukan bahwa orang dengan depresi justru lebih responsif terhadap 'likes' media sosial, bertentangan dengan pemahaman klinis tentang anhedonia.
Sebuah temuan yang tampak paradoks muncul dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Psychiatry: alih-alih kurang peduli terhadap respons sosial, orang-orang dengan depresi justru menunjukkan kecenderungan lebih besar untuk mengubah perilaku mengunggah mereka berdasarkan jumlah 'likes' yang diterima.
Penelitian ini menganalisis lebih dari 17 juta unggahan dari sekitar 7.736 pengguna platform X. Para peneliti menelusuri apakah jumlah 'likes' yang diperoleh seseorang pada satu hari berkaitan dengan seberapa aktif mereka mengunggah konten keesokan harinya. Pola yang sama ditemukan konsisten di tiga kumpulan data berbeda, dengan populasi, metode pengukuran depresi, dan komposisi sampel yang masing-masing tidak sama.
Temuan ini diulas oleh Laura Bilbao Broch, peneliti neurosains klinis dari Rumah Sakit Beaumont di Irlandia, dalam Psychology Today. Broch menyoroti bahwa hasil studi ini tampak bertolak belakang dengan apa yang selama ini dipahami dalam penelitian klinis. Salah satu gejala utama depresi adalah anhedonia — berkurangnya kapasitas seseorang untuk merasakan kesenangan dari hal-hal yang biasanya menyenangkan. Secara logis, kondisi ini seharusnya membuat penderita depresi kurang terdorong untuk terus mengunggah konten demi mendapat pengakuan dari orang lain.
Namun Broch berpendapat bahwa kontradiksi ini bisa jadi bukan pertentangan sejati, melainkan cerminan dari dua mekanisme psikologis yang berbeda. Studi laboratorium tentang anhedonia umumnya mengukur imbalan konsumatori, yakni rasa senang yang dirasakan secara langsung saat menerima sesuatu yang baik. Sementara itu, studi berbasis perilaku di platform X lebih mencerminkan penguatan motivasi — sejauh mana pengalaman mendapat imbalan di masa lalu mendorong seseorang untuk mengulangi perilaku serupa, terlepas dari apakah imbalan itu terasa memuaskan atau tidak pada saat diterima.
Dengan kerangka itu, Broch menyimpulkan bahwa depresi mungkin tidak membuat seseorang merasa lebih baik, tetapi justru mendorong mereka bekerja lebih keras pada perilaku tertentu. Ini menunjukkan bahwa sistem motivasi dan sistem kesenangan pada penderita depresi bisa beroperasi secara terpisah — seseorang bisa terus terdorong mencari validasi meski tidak benar-benar merasakannya secara emosional.
Broch juga mengutip hasil penelitian yang menunjukkan sisi lain dari aktivitas daring: menulis untuk audiens yang memahami pengalaman seseorang dapat mendukung pertumbuhan psikologis. Ini memberi nuansa lebih kompleks pada hubungan antara media sosial dan kesehatan mental — bukan sekadar berbahaya atau bermanfaat, melainkan bergantung pada konteks dan mekanisme yang terlibat.
Tag: depresi, media sosial, kesehatan mental, anhedonia, JAMA Psychiatry